Pengertian dan Tata Cara Shalat Istisqa

0 24
Pengertian dan Tata Cara Shalat Istisqa


PESAN KIAIMungkin sebagian besar kita, belum pernah melaksanakan shalat Istisqa ini. Karena Indonesia memang memiliki curah hujan yang bagus dan mencukupi.

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan suatu saat daerah yang kita tempati mengalami kekeringan panjang, sehingga warga bersepakat untuk melaksanakan shalat istisqa.

Diakui atau tidak shalat ini penting terkait keberlangsungan umat manusia.

Makanya tidak heran jika dalilnya banyak, di antaranya bisa dilihat al-Baqarah ayat 60, As-Syura ayat 42, dan Nuh ayat 10-11. Di ayat yang terakhir menyebutkan bahwa hujan itu tanda bahwa Allah menerima taubat hamba. (Al-Hawi Al-Kabir, juz 2, hal. 513)

Di sisi lain ada banyak hadist yang memang meriwayatkan bahwa Rasulullah dan para sahabat melaksanakan shalat Istisqa, seperti halnya juga dalam keterangan lain bahwa Nabi Musa juga memintakan hujan untuk kaumnya.

Sebetulnya meminta hujan kepada Allah dapat dilakukan beberapa cara. Pertama, paling simple adalah dengan memanjatkan doa. Doa ini bisa dilakukan sendiri-sendiri atau secara berjama’ah. Dan dilakukan langsung saja, mengangkat tangan. Lalu memanjatkan doa kepada Allah. (Al-Iqna, hal. 268).

Kedua, adalah dengan berdoa setelah shalat, baik shalat sunnah maupun wajib. Atau bisa juga dilakukan saat doa khutbah.

Ketiga, dengan melakukan shalat yang disertai khutbah. Inilah shalat istisqa.

Istisqa mengandung pengertian permintaan hamba agar Allah menurunkan hujan karena sangat dibutuhkan. Dan hukumnya adalah sunnah muakkad. (Kifayatul Akhyar, hal. 189). Shalat istisqa ini boleh diulang sampai Allah menurunkan hujan. Gagal sekali, ulangi lagi. Hujan tidak turun-turun, shalat lagi, hingga akhirnya turun hujan.

Nah, jika di suatu masyarakat karena kekerangan akan melaksanakan shalat istisqa. Saat semua sudah kumpul, ternyata hujan turun. Apa yang dilakukan?

Dalam hal ini dianjurkan untuk bersyukur, berdoa, dan tetap dibolehkan shalat, lalu kemudian khutbah tetapi dengan tema bersyukur kepada Allah atas hujan yang diturunkan. (Al-Iqna, hal 180)

Tata Cara Shalat Istisqa

Pertama, Imam atau kepala negara/wilayah/desa memerintahkan kepada masyarakat untuk bertaubat, bersedekah, meninggalkan perbuatan dholim, berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan musuhnya, dan berpuasa selama tiga hari. (At-Tadzhib, hal. 80-81).

Mengapa perbuatan-perbuatan ini penting untuk dilakukan? Karena kedhaliman, maksiat, dan permusuhan menyebabkan putusnya hujan, terhalangnya rezeki, mengundang murka Allah, dan dijatuhkannya adzab. (Kifayatul Akhyar, hal. 189)

Perintah taubat dan shodaqoh ini wajib dilaksanakan. Demikian pula menghindari permusuhan, pertengkaran satu dengan yang lain juga diwajibkan. Karena kedamaian lebih mashlahah dan menjauhkan kedzaliman.

Lalu, alasan diperintahkan untuk berpuasa adalah bahwa orang yang berpuasa, doanya mustajab. Karena saat itu ia dalam posisi dekat kepada Allah dengan puasanya. (Kifayatul Akhyar, hal. 189).

Puasa dilaksanakan berturut-turut selama 3 hari, dan wajib niat puasa di malam hari atau minimal sebelum waktu shubuh (At-Tabyit), karena memang ini, meskipun puasa sunnah, tetapi dikhususkan (Hasyiah Al-Bajuri, juz 1, hal. 232)

Kedua, setelah hal-hal ini dilaksanakan, maka pada hari keempat, imam bersama warga, termasuk anak-anak, orang tua, orang cacat, dan lain sebagainya, semua keluar dengan pakaian jelek dan penuh kekhusyukan. Meskipun Imam Abu Hanifah, sebaliknya, menganjurkan dengan pakaian yang bagus (Al-Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah, juz 1, hal. 284)

Pakaian jelek ini menunjukkan kehinaan dan ketidakberdayaan, dan menunjukkan orang yang butuh. (Kifayatul Akhyar, 128). Semua berjalan dengan tenang, duduk pun tenang, tidak gaduh, tidak ribut, meski dibolehkan bicara. Syaratnya menjaga ketenangan dan kekhusyukan

Ketiga, setelah semua berkumpul di lapangan, maka shalat dimulai. Urutannya sama seperti shalat ‘Id. Takbiratul ihram, membaca doa iftitah, ta’awudz, takbir 7x pada raka’at pertama dan 5x pada raka’at kedua. Bacaan dibaca dengan keras. Dianjurkan pada raka’at pertama membaca surat Qaf atau al-A’la. Sedangkan pada raka’at kedua membaca surat Iqtaraba atau hal ataka hadistul ghasiyah. (Hasyiah Al-Bajuri, juz 1, hal. 233).

Oleh: Ustadz Fathuri Ahza Mumtaza

Editor: Noor Ahmad

Laporkan Iklan Tidak Layak: Klik
loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.