Wahabisme: Ideologi Kaum Ekstremis (Bagian 1)

0 26

 

Pada tahun 1998, Osama bin Laden meluncurkan sebuah maklumat, Al-Jabhah al-Islamiyyah li al-Jihad ‘ala al-Yahud wa al-Shalibiyyin. Secara eksplisit, maklumat tersebut berisi fatwa kepada setiap kaum muslimin untuk memerangi orang-orang Yahudi dan Kristen di mana pun mereka berdomisili. Bagi bin Laden, keterbelakangan kaum muslimin di dunia berkembang disebabkan para kolonial yang menganut Yahudi dan Kristen.

Secara khusus, Bin Laden menyebut Amerika dan sekutunya sebagai musuh umat Islam. Maklumat tersebut berhasil melancarkan serangan ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kenya dan Tanzania pada tahun 1998. Puncaknya, maklumat Bin Laden berhasil menghancurkan menara kembar WTC di New York, 11 Semptember 2001.

Selain itu, sejumlah ulama di Arab Saudi juga mengeluarkan fatwa serupa, terutama dalam rangka mendukung perlawanan Taliban di Afghanistan untuk melawan Amerika Serikat dan sekutunya. Hammoud bin Aqla al-Shu‘aybi mengeluarkan fatwa “jihad” melawan Amerika Serikat dan sekutunya, yang kerapkali menguasai kawasan Timur-Tengah. Tidak hanya itu, fatwa tersebut juga berisi perang melawan kaum muslimin yang mendukung kepentingan “orang-orang kafir”.

Bahkan, ironisnya Abu al-Barra al-Najdi menulis sebuah buku al-Kawashif al-Jaliyya fi Kufr al-Dawla al-Sa‘udiyya. Buku ini berisi tentang kekufuran kerajaan Arab Saudi, keluarga, dan mereka yang mengikuti perintah Raja. Al-Barra al-Najdi dikenal sebagai ulama Wahabi yang keras mengkritisi pemerintah Arab Saudi, karena dalam pandangannya saat ini negaranya dipimpin oleh orang-orang kafir. Ia secara eksplisit menegaskan agar Arab Saudi dikeluarkan dari keanggotaannya di Liga Arab dan Organisasi Konferensi Islam (OKI). Ia secara khusus memberikan apresiasi kepada orang-orang Arab Saudi yang ikut serta berperang di Afghanistan dan kembali ke negaranya untuk mengkritik para pemimpin Arab Saudi yang dianggap melenceng dari misi kebenaran dan keadilan.

Pemandangan tersebut merupakan beberapa fakta yang menjelaskan Wahabisme merupakan paham yang saat ini disorot dengan jelas oleh para pemikir yang konsern terhadap fundamentalisme, radikalisme, dan ekstremisme. Wahabisme merupakan paham yang memberikan inspirasi bagi gerakan-gerakan terorisme kontemporer, terutama dalam mencuci otak “para pengantin” yang rela menebarkan “bom bunuh diri” di sejumlah negara.

Sebagai sebuah paham, Wahabisme mengalami pengembaraan yang luas, karena mempunyai konteks sosial-politik dan sosial-ekonomi yang memungkinkan paham tersebut berkelana dari satu negara ke negara yang lain, terutama jika mempunyai problem politik yang sama. Edward W. Said mengenalkan “travelling theory”, yang dapat menjelaskan bahwa sebuah teori atau paham dapat berkelana dan mengembara sesuai dengan konteks sosial-politik masyarakat.

Meskipun demikian, tidak semua orang memandang Wahabisme sebagai paham yang menginspirasikan ekstremisme. Natana J. Delong-Bas dalam Wahhabi Islam: From Revival and Reform, menegaskan Wahabisme justru merupakan paham keagamaan yang mengusung isu reformasi Islam, karena mengajak kaum muslimin untuk kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Tidak ada kaitan antara Wahabisme dengan al-Qaeda sebagai gembong terorisme kontemporer. Al-Qaeda, khususnya Bin Laden justru terinspirasi oleh Ibnu Taimiyyah dan Sayyid Qutb, bukan dari pikiran-pikiran Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab.

Perbedaan pandangan tersebut hal yang lumrah, karena dalam realitasnya, ideologi hanya merupakan salah satu pemantik timbulnya radikalisme, ekstremisme dan terorisme. Ada faktor-faktor lain yang juga menjadi penyebab munculnya radikalisme, seperti ketidakadilan ekonomi dan politik.

Namun, harus diakui bahwa ideologi mempunyai peran yang sentral untuk membangkitkan gairah bagi gerakan-gerakan ekstremis, terutama dalam rangka mempengaruhi publik dan mencari justifikasi teologis. Amartya Sen mempunyai pandangan yang menarik untuk dipertimbangkan, bahwa kekerasan bersumber dari munculnya keyakinan tentang identitas soliter. Kaum muslimin mempunyai afiliasi identitas yang beragam, sesuai dengan konteks sosial-politik, tetapi kalangan ekstremis telah memilih identitas tunggal untuk membenarkan tindakan kekerasan, sebagaimana dilakukan oleh Osama bin Laden dan para pengikutnya.

Dalam konteks tersebut, Wahabisme patut dielaborasi perihal sosok pendiri, inti ajarannya, dan penetrasinya ke sejumlah negara sebagai ideologi kelompok ekstremis. Harapannya kita bisa melakukan kritik yang bersifat obyektif perihal bahaya Wahabisme dalam konteks kebangsaan dan relasi kemanusiaan kontemporer.

 

Zuhairi Misrawi, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama, Ketua Moderate Muslim Society (MMS), Jakarta.

Laporkan Iklan Tidak Layak: Klik
loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.