Manifesto Islam Ramah

0 11

 

Dan Kami tidak mengutusmu wahai Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam (QS. al-Anbiya [21]: 107).

Ayat ini menjadi pijakan setiap Muslim untuk selalu merenung dan mengingat perihal tanggungjawab sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Nabi agung diutus Tuhan ke muka bumi tidak ada lain sebagai rahmat. Ingat, rahmat bukan hanya untuk umat Islam, tetapi rahmat untuk umat-umat agama lain, bahkan seluruh isi alam raya.

Secara kebahasaan, adanya kata “ma” dan “illa” dalam ayat di atas bermakna sebagai sebuah kewajiban. Artinya, misi utama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW tidak lain hanya sebagai obor cinta-kasih kepada seluruh makhluk Tuhan.

Maka dari itu, kita mempunyai tanggungjawab yang besar untuk memastikan Islam tidak dibajak oleh sebagian kelompok yang kerap mengatasnamakan Islam untuk tujuan politik identitas, kekerasan, diskriminasi, bahkan bom bunuh diri.

Fenomena munculnya gerakan-gerakan terorisme global, seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), al-Qaeda, dan lain-lain menjadi contoh nyata, bahwa selalu ada kelompok yang ingin menjadikan Islam sebagai instrumen politis kekuasaan. Mereka membawa label Islam untuk menjustifikasi tindakan teror.

Fakta politik global yang karat-marut, terutama penjajahan negara-negara Barat terhadap dunia Muslim, khususnya Palestina masih menjadi bensin yang siap membakar ghirah sebagian umat untuk terlibat dalam jaringan terorisme global.

Di samping itu, adanya pemahaman keagamaan yang dangkal dan terbatas dapat menyebabkan seseorang mudah tergiur untuk menjadi “pengantin” dan “mujahid” yang siap untuk meledakkan bom dan berperang dengan berharap surga dan seluruh kenikmatan di dalamnya.

Maka dari itu, selain aspek-aspek eksternal seperti konteks sosial politik global, yang dapat menyebabkan seseorang tertarik untuk bergabung dengan jaringan terorisme selalu ada pemahaman yang salah yang dapat menyebabkan seseorang salah paham.

Maka dari itu, kita memerlukan sebuah paham benar dan baik tentang Islam. Paradigma Islam ramah dapat menjadi alternatif untuk menegaskan hakikat kandungan Islam.

Secara kebahasaan, Islam berasal dari kata aslama-yuslimu-islaman. Artinya, menyelamatkan, mendamaikan, dan menyejukkan. Aslama-yuslimu-islaman dapat juga diartikan berserah diri kepada Tuhan, tawakkal.

Menjadi seorang Muslim setidak-tidaknya harus mempunyai dua karakteristik yang utama. Pertama, seorang Muslim harus berserah diri kepada Tuhan sebagai manifestasi dari hablum minallah, hubungan antara makhluk dengan Khalik. Di sini beribadah secara paripurna menjadi sebuah keniscayaan.

Namun paripurna secara ritual saja tidak cukup, diperlukan amal-amal sosial yang dapat membawa pada kedamaian dan keadilan. Seorang Muslim harus berperan untuk menciptakan tatanan sosial masyarakat yang saling menghormati dan saling menghargai antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, tidak ada egoisme dan fanatisme yang ekstrem.

Seorang yang mengaku dirinya Muslim tidak diperkenankan menebarkan ancaman, kekerasan, dan pembunuhan. Seorang Muslim harus memastikan tetangganya dalam keadaan aman dan nyaman. Negerinya aman dan tentram.

Bung Karno dalam Pidato Pancasila 1 Juni 1945 menegaskan, bahwa kita harus mewujudkan ketuhanan yang berkebudayaan. Kita harus menjadi Muslim yang taat, tetapi juga bertanggungjawab untuk memupuk solidaritas sesama warga dan sesama manusia.

Dalam hal ini, ada baiknya kita kita mencerna kembali pesan Imam Ali karramallahu wajhahu, kita semua pada hakikatnya bersaudara. Kita bersaudara dalam satu agama yang agama atau kita bersaudara sesama makhluk Tuhan.

Zuhairi Misrawi, Intelektual Muda Nahldlatul Ulama, Ketua Moderate Muslim Society

Laporkan Iklan Tidak Layak: Klik
loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.