Isra’ Mi’raj: Bahagia di Dunia dan Akhirat

2

PesanKiai.comPerayaan Isra’ Mi’raj menjadi tradisi tahunan yang populer di kalangan umat Islam Indonesia. Secara umum, masyarakat biasanya menyambut perayaan ini dengan gegap-gembita sebagai bentuk peringatan atas kewajiban sholat pertama oleh Allah kepada umat Islam yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW di Sidrotil Muntaha.

Isra’ Mi’raj biasanya dimaknai sebagai peristiwa perjalan Nabi menghadap Allah SAW yang dimulai dari Makkah kemudian singgah di Baitul Maqdis (Palestina) dan dilanjutkan ke Sidratil Muntaha. Namun demikian, dalam makna yang lebih substantif, peristiwa Isra’ Mi’raj sejatinya merupakan pesan simbolik, bahwa peristiwa itu merupakan anjuran Allah kepada umat Islam agar senantiasa menjalin hubungan yang baik antara hubungannya dengan manusia dan juga hubungannya dengan Allah.

Peristiwa Isra’ Mi’raj yang diawali perjalan via darat menuju Palestina merupakan gambaran pentingnya menjalin hubungan baik secara horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas). Kemudian perjalan itu dilanjutkan secara vertikal dari Palestina menuju Sidratil Muntaha, maka makna dari ini adalah manusia juga harus menjalin hubungan yang baik dengan Allah SWT (hablum minallah).

Makna Isra’ Mi’raj seperti ini disampaikan oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember KH Abdullah Syamsul Arifin saat menyampaikan pengajian Isra’ Mi’raj di pesantren Miftahul Ulum, Jember (23/4). Dalam pandangan Kiai muda yang biasa dipanggil Gus Aab tersebut, hubungan antara manusia dan hungan dengan Allah merupakan satu kesatuan yang masing-masing tak bisa dipisahkan.

 “Jadi secara fisik, Isra’ Mi’raj itu memberikan pesan bahwa kita wajib menjaga hubungan dengan manusia sekaligus Allah. Itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.

Gus Aab manambahkan, konsistensi menjalin dua hubungan tersebut merupakan kunci bagi kebahagiaan seseorang dalam menapaki kehidupan dunia ini. “saya kira kunci utama dan satu-satunya untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat adalah hablum minannas dan hablum minallah,” ungkapnya.

Dalam pandangan Gus Aab, cara kita berhubugan baik dengan Allah yaitu melalui cara melakukan ibadah dengan tulus, tanpa memikirkan keuntungan yang dapat diperoleh melalui ibadah tersebut. Berlebihan dalam mengejar dunia adalah bentuk dari buruknya hubungan seseorang terhadap Allah SWT.

Cinta kepada Allah dengan melakukan ibadah tanpa memikirkan urusan dunia, tidak bagus. Cinta kepada dunia dengan bekerja tanpa kenal waktu hingga melupakan shalat dan kewajiban yang lain, juga tidak baik,” jelasnya.

 

 Editor: Akhmad Khan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here