Wahabisme: Ideologi Kaum Ekstremis (Bagian 5)

2

Sebenarnya secara paradigmatik, paham keagamaan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab tidak mempunyai kekuatan argumentatif. Tetapi, pada tahun 1975, Arab Saudi yang kaya minyak itu mempunyai amunisi yang sangat besar untuk mentransmisikan Wahabisme ke seluruh penjuru dunia. Mereka menggunakan modus pembangunan masjid dan penerbitan buku-buku yang ditulis oleh Muhammad bin Abd al-Wahhab, dan pengikutnya, seperti Muhammad bin Baz, mufti Arab Saudi.

Kalangan yang diidentifikasi dengan Neo-Wahabi tersebut mempunyai karakteristik yang distingtif, yaitu memapankan pandangan Ibnu Taymiyyah, Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, dan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Mereka kadangkala menyebutkan dirinya secara eksplisit sebagai penganut Wahabi, tetapi pada umumnya menggunakan jubah “salafisme”.

Dalam memondialisasi ideologinya, kalangan Wahabi membentuk organisasi yang dikenal degan Liga Muslim Dunia (Rabitat al-‘Alam al-Islami). Melalui lembaga inilah, mereka memberikan beasiswa kepada dunia Islam untuk belajar di Arab Saudi atau mereka mendirikan lembaga pendidikan yang mana kurikulum dan para dosennya didatangkan langsung dari Arab Saudi. Selain itu, mereka membangun sejumlah masjid, menyediakan dana untuk penerjemahan dan penerbitan al-Quran, serta menyebarkan buku-buku dan majalah yang ditulis oleh para ulama dari kalangan Wahabi.

Harus diakui, program-program yang dicanangkan oleh kalangan Wahabi relatif berhasil, karena mereka tidak hanya menyebarkan pemikiran, tetapi juga menciptakan para ulama, bahkan politisi yang menyampaikan dakwah setiap saat kepada kaum muslimin. Bahkan, di antara mereka menempati posisi penting di lembaga fatwa, sehingga tidak heran jika fatwa-fatwa keagamaan juga diinspirasikan oleh nalar kaum Wahabi.

Meskipun demikian, citra Wahabisme tidak selalu elok, karena dalam realitasnya masih banyak penentangan, baik oleh kalangan Wahabi maupun Non-Wahabi. Sebagian kalangan Wahabi menolak untuk diasosiakan dengan penganut Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, karena sesungguhnya apa yang mereka yakini merupakan paham “Islam yang paling benar”, bukan paham Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Di kalangan Non-Wahabi, sudah pasti mendapatkan penolakan dan penentangan yang serius, karena sebagian besar kaum muslimin adalah paham Ahlussunnah wal Jamaah yang mempertahankan tradisi ziarah kubur, menganut sufisme, dan beradaptasi dengan kebudayaan lokal. Maka dari itu, hampir di setiap dunia Islam, Wahabisme hampir menjadi common enemy.

Munculnya penentangan yang begitu kuat tersebut, menyebabkan Wahabisme menggunakan “wajah baru” dengan menggunakan terma “salafisme” sebagai baju baru. Dua tokoh salafisme yang paling menonjol yaitu Abu al-A‘la al-Mawdudi dan Sayyid Qutb. Doktrin kembali kepada masa keemaasan Islam, konsep “Jahiliyya”, dan puritanisme Islam menjadi tema yang paling mengemuka dalam gerakan mereka. Pada tahun 70-an, ada beberapa sosok “Wahabi-Salafi”, seperti Salih Saraya (w.1975), Syukri Mustafa (w. 1978) dan Muhammad Abd Salam Faraj (w.1982).

Bagaimana dengan merebaknya gerakan ekstremis kontemporer, yang menebarkan terorisme di sejumlah negara? Apakah mereka mempunyai hubungan langsung dengan Wahabisme?

Menurut Ahmad Moussalli, Neo-Wahabisme terbelah dalam tiga faksi: Pertama, faksi Sa‘ad al-Faqih, yaitu faksi Wahabi-Ikhwan. Kedua, faksi Muhammad al-Mas‘ari, yang berpusat di London. Ketiga, faksi Osama bin Laden yang mendendangkan perlawanan terhadap Barat dan simbol-simbolnya. Faksi Neo-Wahabi yang terakhir inilah yang merupakan faksi paling keras, karena menggunaakn ideologi radikalisme berbasis Islam sebagai basis untuk melakukan perlawanan terhadap Barat atau mereka yang berafiliasi dengan kepentingan Barat. Pada akhirnya, Osama bin Laden membentuk al-Qaeda sebagai kelompok bawah tanah yang siap melakukan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan negara sekutunya. Bahkan bin Laden menabuh gendang perlawanan terhadao rezim Arab Saudi.

Faksi Osama bin Laden merupakan ancaman serius terhadap kemanusiaan, karena membangun sebuah ideologi baru, yaitu salafi-jihadi. Ideologi ini merupakan ramuan antara Wahabisme, Salafisme, dan Jihad. Yaitu paham yang mengabsahkan bunuh diri dengan mengharapkan imbalan surga di akhirat nanti. Ideologi ini secara pelan-pelan menjadi trend di sebagian umat Islam, khususnya kalangan muda yang tidak mempunyai pemahaman yang komprehensif tentang Islam.

Saat ini, Arab Saudi sendiri sudah melakukan reformasi besar-besaran untuk mengamputasi dan menetralisir paham Wahabi, karena mereka memandang Wahabisme tidak hanya berbahaya bagi dunia internasional, tetapi juga bagi Arab Saudi sendiri. Kini, Wahabisme ibarat senjata makan tuan, karena menganggap Kerajaan Arab Saudi sebagai kafir. Mereka berencana beberapa kali untuk melakukan kudeta, meskipun selalu gagal, karena kekuatan mereka sangat terbatas.

Arab Saudi pun perlahan melakukan upaya deradikalisasi terhadap kaum muda dan para ulama agar tidak mudah terperangkap dalam ideologi salafi-jihadi, sebagaimana diidealisasi oleh Osama bin Laden. Namun, satu hal yang sulit untuk diabaikan, bahwa Arab Saudi merupakan tanah kelahiran Wahabisme, yang sebenarnya merupakan cikal-bakal dari persemaian paham Ibn Taymiyyah, yang menegaskan purifikasi akidah, pengafiran, pemurtadan, dan pembid‘ahan. Semuanya itu merupakan ideologi kaum radikal, karena telah melegalkan kekerasan dengan mengatasnamakan agama.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here