Imam Besar Masjidil Haram Pertama Dari Indonesia

0 11

PesanKiai.com – Menjadi imam besar Masjidil Haram adalah suatu kehormatan yang besar. Sungguh tidak sembarang orang bisa menjadi imam di Masjid terbesar di dunia tersebut. Siapapun yang ingin menjadi imam di masjid itu, tentu saja harus menguasai pengetahuan agama yang luas dan mendalam.

Siapa sangka, seorang ulama asal Indonesia ternyata pernah menjadi imam di Masjidil Haram. Beliau adalah Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang ulama terkemuka asal kota Gadang, Sumatera Barat. Beliau dikenal sebagai ulama besar yang alim dan berpengaruh di Mekkah. Beliau tidak hanya orang Indonesia pertama yang pernah menjadi imam besar Masjidil Haram, tetapi juga imam non-Arab pertama yang memimpin shalat di masjid kebanggaan umat Islam di dunia tersebut.

Syaikh Ahmad Khatib merupakan putera dari Abdul Latif dan cucu dari Abdullah, tokoh ulama ternama dari kota Gadang, Sumatera Barat. Sejak kecil beliau belajar Islam secara langsung dari ayah dan kakeknya, sehingga intelektualitasnya lebih banyak berpengaruh dari pendidikan keluarga.

Ketika masih berumur belia, beliau mampu menghafal Al-Qur’an dengan bacaan yang fasih. Bahkan pada saat usianya menginjak 9 tahun, Syaikh Ahmad Khatib diajak menunaikan ibadah haji oleh ayahnya. Pada saat berhaji itulah beliau memutuskan untuk menetap di Makkah, sementara ayahnya kembali ke Indonesia. Selama di Makkah beliau banyak belajar kepada ulama-ulama terkemuka di tanah Arab.

Di Makkah, Syaikh Ahmad Khatib dikenal sebagai ulama yang memiliki banyak santri. Beliau menjadi tumpuan pelajar yang haus akan ilmu agama. Selama mengajar, beliau tak lupa meminta para santrinya untuk melanjutkan studi ke Mesir setelah belajar di Makkah.

Menurut Zainul Milal Bizawie, penulis buku Masterpeace Islam Nusantara, usulan Syaikh Ahmad Khatib meminta santrinya meneruskan studi di Mesir agar para santrinya bisa menimba semangat nasionalisme dari Mesir untuk kemudian diterapkan di Indonesia. Syaikh Ahmad Khatib ingin para santrinya menjadi pionir kemerdekaan bangsa Indonesia yang saat itu sedang dijajah kolonial.

“Motif Syaikh Ahmad Khatib mengirim santri-santrinya ke Mesir adalah untuk menimba semangat nasionalisme di sana untuk diterapkan di Indonesia,” ujar Zainul Milal.

Selain itu, menurut pria yang akrab disebut Gus Milal tersebut, pada masa itu Makkah merupakan kota spiritual, sedangkan Mesir tumbuh menjadi kota pergerakan. Karena itu, setelah para santri dibekali spiritualitas keagamaan, maka selanjutnya akan diterpa melalui pengetahuan tentang pentingnya perjuangan dan pergerakan nasionalisme. “Makkah saat itu kota spiritual, sedangkan Mesir kota pergerakan,” ujarnya.

Banyak sekali murid-murid dari Syaikh Ahmad Khatib yang kemudian menjadi ulama besar dan berpengaruh di Nusantara, bahkan di beberapa belahan dunia. Beberapa di antaranya adalah KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

 

Editor: Akhmad Khan

Laporkan Iklan Tidak Layak: Klik
loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.