Kiai Said Aqil Siroj: Jaga Budaya Islam Nusantara

2

PesanKiai.com – Umat Islam Indonesia, siapapun dan di mana pun berada harus tetap menjaga tradisi dan budaya Islam Nusantara. Tugas dan kewajiban warga negara yang baik tidak hanya menjaga keselamatan geografis NKRI, melainkan juga keutuhan budaya dan nilai-nilai luhur Islam ala Nusantara.

Pesan itu disampaikan Kiai Said Aqil Siroj saat peluncuran dan diskusi buku NU Penjaga NKRI, di Gedung PBNU, Jakarta (10/4). Menurut Kiai yang juga akrab disapa Kang Said tersebut, mempertahankan budaya khas Islam Nusantara sangat penting. Karena banyak pelajar Indonesia yang belajar ke luar negeri kemudian ketika pulang ke Indonesia meninggalkan budaya Nusantara.

Hal itu tentu saja memprihatinkan. Karena itu Kiai said mengingatkan agar pelajar Indonesia cukup membawa ilmu dan pengetahuan tekhnologi yang didapatkannya. Bagi yang belajar di Barat, jangan sampai membawa budaya yang buruk dan tidak sesuai dengan ciri khas Islam Nusantara. Begitu halnya bagi yang belajar di Timur Tengah, jangan sampai membawa budaya yang bertentangan dengan ciri khas Indonesia. Karena menurut Kiai Said, budaya Indonesia lebih mulai dari pada budaya negara-negara lain.

“Jadi, silakan sekolah di Amerika, Australia, dan Eropa. Tapi pulang jangan bawa bir atau khamr, pulanglah dengan membawa intelektual dan teknologinya. Silakan belajar di Timur Tengah. Bawa pulang tafsir, hadis, bawa ilmu fiqh. Jangan bawa cadar, jangan bawa jenggot. Itu artinya kita menjaga budaya. Sebab, budaya kita lebih mulia dari Barat dan Arab, ujarnya.

Kiai Said melanjutkan bahwa budaya ciri khas Islam Nusantara adalah ramah dan tenggang rasa. Berbeda dengan kebanyakan negara-negara Barat dan Timur Tengah yang tidak mengedepankan etika sosial dalam kehidupan sehari-hari. Di Indonesia, budaya tatakrama dan moral yang baik sangat ditekankan.

“Nah, begitu juga budaya Arab. Kalau kita salat di Masjidil Haram, orang Arab itu biasa melangkahi kepala kita saat sedang sujud. Saya yakin, itu bukan orang Indonesia, Malaysia, bukan Brunei. Itu jelas orang Arab, tegasnya.

Bahkan menurut Kang Said, sekalipun orang Indonesia marah, mereka tetap mempertahankan panggilan hormat terhadap orang lain. “Orang kita itu, kalau lagi marah saja pasti nyebut gelarnya. Misal, Kang Durahman, jahat sekali kamu,” pungkasnya.

Editor: Akhmad Khan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here