Kiai Said Aqil Siroj: Islam dan Budaya Tidak Bertentangan

2

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperingati hari lahirnya (Harlah) yang ke-95 tahun di Tugu Proklamasi, Jakarta (8/4). Dalam peringatan harlah ini panitia mengadakan pergelaran wayang untuk menunjukan seni dan budaya lokal yang menjadi ciri khas Nusantara. Menurut Ketua Umum PBNU, Kiai Said Aqil Siraj, pergelaran wayang digunakan untuk menegaskan bahwa Islam sebenarnya tidak bertentangan dengan budaya.

Kiai yang akrab dipanggil Kang Said ini juga menyebut bahwa budaya merupakan pondasi untuk membangun agama dan negara. Menurutnya, budaya dan agama tidak bertentangan, justru saling melengkapi, masing-masing memberi warna terhadap yang lain.

“Islam Nusantara artinya Islam yang menjadikan budaya sebagai infrasruktur agama. Agama dibangun di atas budaya maka budaya akan menjadi pokok dan agama akan menjadi kuat,” ujar Kang Said.

Dalam sambutanya beliau sangat mendukung adanya pergelaran wayang karena merupakan salah satu budaya khas Nusantara.  Apalagi, wayang dikenalkan pertama kali oleh salah satu Walisongo yang bernama Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga.

Meskipun budaya wayang berasal dari India akan tetapi dengan kemahiran Sunan Kalijaga wayang tersebut yang mulanya hanya berupa kertas bergambar diubah dengan lebih modern yaitu mengganti kertas bergambar dengan kulit dan bentuk yang hampir menyerupai manusia. Sebagaimana disampaikan Kiai Said, bahwa Sunan Kalijaga juga memodifikasi nama-nama wayang dengan muatan-muatan agama.

“Sunan Kalijaga memberikan nama semar, gareng, petrok dan bagong itu dari sabdanya Sayyidina Ali sammir khairan fattruk ma bagha. Sammir artinya bergegaslah melaksanakan, khairan artinya kebaikan, fattruk artinya tinggalkanlah, ma artinya segala sesuatu dan bagha artinya yang menyimpang,” pungkas Kiai Said.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here