Wahabisme: Ideologi Kaum Ekstremis (Bagian 3)

2

Sebagaimana dijelaskan dalam pengantar biografis Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, bahwa tawhid merupakan fundamen dari pemikirannya. Tidak seperti pandangan para ulama kalam lainnya, Wahabisme mempunyai pemahaman yang khas tentang tawhid.

Para ulama kalam memaknai kata “Allah” dan “al-Ilah” dengan “al-Khaliq”. Yaitu Tuhan yang menciptakan langit, bumi, dan isinya. Hal tersebut merujuk pada ayat al-Quran, Jika ia mempunyai tuhan yang baik, sebagaimana diungkapkan orang-orang, niscaya ia akan memohon kepada Tuhan yang menciptakan singgasana. Di dalam ayat lain, Jika di dalam keduanya terdapat tuhan yang banyak, semua akan binasa kecuali Allah.

Pandangan ini populer di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah sebagai bentuk penghambaan (ibadah) kepada Allah Swt. Meyakini-Nya sebagai “Khaliq” merupakan puncak dari keimanan, yang diekspresikan melalui ketaatan dalam menjalankan rukun Iman dan rukun Islam.

Namun, Wahabisme mempunyai paradigma yang unik dan distingtif berkaitan dengan tawhid. Menurut kaum Wahabi, kaum muslimin tidak cukup hanya dengan meyakini Allah Swt. sebagai “Khaliq”, melainkan memurnikan ibadah kepada-Nya. Ibadah hanya sepenuhnya kepada Allah Swt. tidak boleh melalui perantara (tawassul). Siapapun yang beribadah dengan menggunakan perantara, maka orang-orang tersebut akan tergolong “musyrik”. Bahkan, mereka dianggap telah keluar dari Islam (murtad).

Pandangan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab tersebut dipengaruhi oleh Ibnu Taymiyyah. Menurut Ahmad al-Katib, ia membaca karya-karya Ibnu Taymiyyah pada usia 25 tahun saat belajar di Basra. Pada saat itu, ia melihat tradisi orang-orang Basra berziarah ke makam para sahabat Nabi dan ahl al-bayt, baik di kalangan Sunni maupun Syiah. Lalu, kemudian Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab menentang tradisi tersebut, sembari berkata,”ibadah ziarah kubur tidak dapat dibenarkan, karena sesungguhnya ibadah hanya kepada Allah Swt”.

Menurut Ibnu Taymiyyah, ada tiga model tawhid yaitu tawhid uluhiyyah, tawhid rububiyyah, dan tawhid al-asma’ wa al-sifat. Menurut Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhab, tawhid uluhiyyah merupakan fundamen yang sangat penting dalam Islam, karena di situlah seorang muslim dapat menancapkan keimanannya secara puritan. Pada zaman Nabi Muhammad Saw. begitu banyak orang yang mengamini tawhid rububiyyah, tetapi sedikit sekali orang yang meyakini tawhid uluhiyyah.

Lebih jauh, Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab menyatakan, bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Nabi Muhammad Saw. telah melakukan sejumlah kebajikan, seperti sedekah, haji, umrah, beribadah, dan meninggalkan larangan Tuhan. Akan tetapi, mereka tidak menerapkan tawhid uluhiyyah. Mereka meyakini Tuhan sebagai “al-Khaliq”, tetapi mereka tidak meyakini Tuhan sebagai satu-satunya sandaran dan tujuan. Maka dari itu, barangsiapa memohon kepada selain Allah Swt., seperti memohon pertolongan kepada Nabi Muhammad Saw., para wali, dan orang-orang saleh, maka orang tersebut telah melakukan dosa besar (syirik). Pandangan ini selaras dengan ungkapan Ibnu Taymiyyah, “Barang siapa meminta pertolongan kepada Muhammad Saw., maka ia sama halnya meminta pertolongan kepada patung”.

Secara sosiologis, pandangan ini berlawanan dengan keyakinan dan tradisi yang berkembang di dunia Islam pada umumnya, karena pada hakikatnya tradisi-tradisi keagamaan tersebut sudah mengakar kuat. Tidak hanya itu saja, kalangan muslim tradisional atau Ahl al-Sunnah wal Jamaah, telah mempunyai alasan yang kuat tentang tradisi yang mereka lakukan. Maka dari itu, salah satu terobosan yang diambil oleh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, yaitu melakukan pengafiran (al-takfir) terhadap tradisi-tradisi yang berkembang tersebut. Ia menulis, “Sebagian besar umat manusia telah dipermainkan oleh setan dan dihiasi perbuatan syirik, yang membuat mereka terlena dengan orang-orang saleh, sembari mengagung-agungkan mereka. Bahkan, orang-orang musyrik di zaman kita lebih sesat daripada orang-orang kafir yang hidup pada zaman Rasulullah Saw. Maka, bukan rahasia lagi, bahwa kehidupan dunia dipenuhi oleh penyembahan berhala”. Begitu halnya, tradisi-tradisi yang digunakan oleh orang-orang Badui lebih sesat dari pada orang-orang Yahudi.

Selain itu, Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab sangat membenci terhadap tradisi Barat. Ia melarang setiap Muslim untuk makan roti dan daging. Jika seorang seorang muslim melakukan hal tersebut, maka ia telah kafir, dan karenanya harus dibunuh.

Menurut dia, seorang Muslim harus mempunyai loyalitas dan disasosiasi (al-wala wa al-bara) terhadap hal-hal yang hal-hal yang menyebabkan seorang muslim terjebak dalam kekufuran. Selain itu, kelompok yang dikafirkan yaitu kaum sufi, syi’ah, pengikut dinasti Ottomon, bahkan Imam Fakhruddin al-Razi juga termasuk ulama tafsir yang dikafirkan, karena tidak mengikuti penafsiran yang literal ketat, sebagaimana dipakemkan oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab. Dari tahun 1802-1806, terdapat kurang lebih 40.000 yang divonis mati dan 350.000 orang diamputasi.

Dalam konteks ini, ada pengembaraan paham keagamaan dari Ibnu Taymiyyah kepada Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Meskipun demikian, Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab lebih puritan, elaboratif dan agresif dalam melancarkan pahamnya. Bahkan, ia menjadikan paham tersebut sebagai paham yang disebarluaskan ke berbagai penjuru dunia dan menjadi dokumen politik Kerajaan Arab Saudi pada masa awal berdirinya negara Arab Saudi hingga sekarang ini, walaupun dengan beberapa modifikasi.

Menurut Ahmad Mousalli, kalangan Wahabi menganggap dirinya sebagai kelompok yang paling salafi di antara kelompok salafi lainnya. Hal itu didasarkan pada sebuah asumsi, karena mereka telah melakukan reformasi teologis dengan memformulasikan paradigma tawhid dengan paripurna sembari mendekonstruksi pandangan kalangan Sunni tentang kalam, fikih mazhab, dan ritual ziarah kubur, yang berkembang hampir di sebagian besar dunia Islam, termasuk berziarah ke makam Rasulullah Saw. Kalangan wahabi menganggap apa yang dilakukan umat Islam di luar kelompoknya sebagai perbuatan politeis, kafir dan murtad dan bid’ah.

Ironisnya, kalangan Wahabi tidak hanya mengafirkan sejumlah paham dan praktik keagamaan yang tumbuh di kalangan Muslim, tetapi juga mengafirkan sejumlah kebiasaan umat Islam seperti mendengarkan musik, menonton televisi, melukis, memotret, dan lain-lain. Mereka menganggap praktik-praktik tersebut dapat mereduksi tawhid, karena melestarikan tradisi kalangan non-muslim. Kelompok lain yang juga dikafirkan oleh kalangan Wahabi, yaitu kalangan Syi’ah dan Rafida. Sikap ini didasarkan pada pandangan, bahwa mereka tidak mempunyai keimanan yang paripurna dan murni. Khusus untuk kalangan Rafida, Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab menulis sebuah buku khusus, yaitu al-Radd ‘ala al-Rafida, yang di dalamnya mematahkan pandangan teologis kaum Rafida.  

Pada masa Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, doktrin takfir digunakan secara politik untuk melawan Dinasti Ottoman. Berdasarkan fatwa “sesat” dan “kafir” terhadap mereka, kalangan Wahabi membangun kekuatan politik untuk melakukan perlawanan. Sikap ini disokong sepenuhnya secara politik oleh Dinasti Sa’ud bin Abd al-‘Aziz sebagai sikap politik terhadap Dinasti Ottoman.  Tidak hanya itu saja, kalangan Wahabi mendeklarasikan perang dengan mereka yang dianggap sebagai kalangan jahiliyyah. Artinya, pilihan agar kembali tawhid uluhiyyah merupakan harga mati yang harus diikut oleh seluruh umat Islam. Jika tidak, maka mereka layak untuk dikafirkan dan jika tidak mengikuti pemahaman kalangan Wahabi harus diperangi.

Sikap yang diambil oleh kalangan Wahabi tersebut sebenarnya bukanlah murni sebagai sikap teologis, melainkan dapat disebut sebagai sikap teologis yang bernuansa politis. Doktrin tawhid uluhiyyah pada mulanya merupakan sebuah upaya merespons tradisi umat Islam yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Namun, dalam perjalanannya doktrin tersebut melahirkan sebuah doktrin takfir, yang sebenarnya merupakan tradisi yang tidak populer.

Namun, kalangan Wahabi telah mempopulerkan doktrin takfir di seantero dunia Islam, sehingga gemanya meluas dan membawa dampak yang serius dalam merespons perbedaan dan kemajemukan pandangan di kalangan Muslim. Di sinilah letak persoalannya, karena dakwah untuk membangun paradigma keimanan yang murni dan paripurna itu tidak sekadar konsep dakwah, tetapi juga konsep politik yang disertai dengan paradigma takfir.

Bahkan, dalam perjalanan sejarahnya, konsep takfir tidak hanya menimbulkan reaksi keras di sejumlah dunia Islam, tetapi juga di Arab Saudi. Sejumlah ulama Wahabi telah mengafirkan para ulama Arab Saudi, sehingga menimbulkan perdebatan serius di kalangan mereka. Meskipun demikian, kalangan Wahabi masih diakomodasi oleh pihak Istana, karena mereka mampu mendepak faksi Wahabi-Ikhwan yang lebih toleran terhadap kalangan muslim, terutama Syiah dan kalangan Sunni lainnya. Posisi kalangan Wahabi semakin kokoh di dalam lingkungan kerajaan Arab Saudi.

Di Arab Saudi, kalangan Wahabi mempunyai posisi yang sangat powerfull. Mereka memegang kendali penuh atas urusan keagamaan, terutama di masjid. Bahkan, mereka dapat mengontrol legislasi dan pendidikan. Mereka menunjukkan loyalitas yang sangat tinggi terhadap rezim yang berkuasa. Hal tersebut sudah dibuktikan selama muncul revolusi Wahabi-Ikhwan, Perang Teluk, termasuk perang melawan Afghanistan dan Taliban pada tahun 2001.

Pada masa kontemporer, tokoh Wahabi yang populer yaitu Muhammad bin Baz, yaitu mufti Arab Saudi yang bertanggungjawab penuh atas fatwa keagamaan di Arab Saudi. Sebagaimana Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, Baz melanjutkan pikiran-pikiran pendiri Wahabisme secara taken for granted. Pemikiran tentang tawhid dan takfid menjadi inti dari pemikirannya. Ide dasarnya, bin Baz memandang bahwa pemikiran keislaman akan dianggap absah jikalau mengikuti ajaran Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Jika tidak, maka umat Islam dianggap telah melakukan dosa besar (al-kabair).

Zuhairi Misrawi, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama, Ketua Moderate Muslim Society (MMS), Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here