Akhlak Mohamed Salah

0 16

Semua sudah maklum, jagat penggila bola sedang membincangkan Mohamed Salah. Pemain yang bertubuh kecil, tapi mampu memonopoli bola dan melesakkannya ke gawang lawan sudah tidak terbantahkan lagi. Kepiawaiannya di lapangan hijau diganjar sebagai pemain terbaik Liga Inggris musim 2017-2018 oleh asosiasi pemain profesional.

Torehan gol-gol yang sudah dicetak Salah tidak menutup kemungkinan akan menjadikannya sebagai pemilik sepatu emas di kancah Eropa. Ia bersaing dengan Lionel Messi dan Ronaldo. Jika Liverpool memenangkann laga final Liga Champion akhir Mei nanti, ia akan menjadi pemain terbaik dunia 2018. Salah diprediksi banyak pihak akan menjadi “khalifah” Ronaldo dan Messi.

Intinya, para penggila bola selalu mengelu-elukan Salah. Ia mendapatkan sejuta panggilan oleh para pengagumnya. Di Timur-Tengah, ia dipanggil dengan “Messi Arab”. Di Afrika disebut, “Messi Afrika”. Di Eropa, ia dipanggil, “King Egypt”. Sedangkan Liverpuldian memanggilnya dengan “Mo”.

Panggilan yang terakhir ini diambil dari nama depan Salah, yaitu Muhammad. Nama yang tidak asing bagi umat Islam. Nama yang sering dilantunkan shalawatnya. Setiap keluarga muslim, umumnya memilih mengawali namanya dengan “Muhammad” atau “Ahmad”.

Salah pun demikian, orangnya tuanya sengaja memulai namanya dengan “Muhammad” tidak lain agar anaknya nanti meneladani akhlak Rasulullah SAW. Barangkali orang tuanya tidak mengira anaknya akan menjadi pesepakbola profesional di Eropa. Pendidikan ala orang pedalaman Mesir (sha’idi) telah menjadikan Salah sebagai sosok yang berakhlak mulia, tidak hanya di dalam lapangan hijau, tetapi juga di luar lapangan.

Salah, sekali lagi, adalah sosok anak kampung yang tidak luntur tradisi dan kearifan lokalnya. Lahir di distrik Nagrig, Tanta, ia masih memegang tradisi “anak kampung”, meski sudah malang melintang di jagad Eropa, sejak dari Swiss, London, Roma, Fierontina, hingga Liverpool. “Saya sejak kecil hanya bermimpi ingin bermain di klub-klub mentereng di Mesir. Saya tidak pernah bermimpi akan seperti sekarang ini bisa bermain di Eropa”, ujar Salah dalam sebuah wawancara dengan Televisi CBC Mesir. Ia selalu rendah hati.

Salah menyatakan, yang ia lakukan hanya fokus berlatih dan berlatih. Dulu, saat masih muda ia harus berlatih di Kairo, saban hari harus menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dari Tanta ke Kairo. Ia percaya bahwa fokus pada bakat yang telah diberikan Tuhan kepada dirinya akan mengantarkannya pada gerbang kesuksesan.

Sekarang jagad media sosial sedang membincangkan perangai Mohamed Salah. Ia memikat tidak hanya caranya menguasai bola dan melesakkannya ke gawang lawan, tetapi perangainya di luar lapangan hijau.

Gaji dan popularitas yang menjulang tinggi membuat Salah tidak gelap mata dan gelap hati. Ia menyatakan sengaja menjauh dari sorot media, tidak seperti para pemain bintang lainnya, karena ia ingin fokus pada pertandingan dan menghadiahkan kemenangan bagi klub dan fansnya. Itu yang menjadi prioritas Salah saat ini dan yang akan datang.

Namanya begitu dielu-elukan, terutama setelah berhasil membawa Mesir ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia. Gol di menit-menit akhir ke gawang Ghana telah membangkitkan kegembiraan yang luar biasa di seantero Mesir. Meskipun demikian, Salah tidak sesumbar. “Saya hanya salah satu dari 11 pemain di Tim Nasional. Kemenangan atas Ghana dan lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 bukan karena saya, tetapi karena kerjasama seluruh pemain”, tegas Salah setelah pertandingan.

Sekali lagi, Salah tidak menganggap dirinya sebagai pemain bintang. Ia hanya salah satu pemain. Tanpa pemain-pemain lainnya, ia tidak berarti apa-apa. Ia memahami bahwa dalam sepakbola adalah kolektivitas dan kerjasama. Semua pemain pada hakikatnya adalah bintang. Sebab itu, hubungan Salah dengan para pemain lainnya di Timnas Mesir sangat baik, termasuk juga hubungannya dengan para pemain Liverpool yang lain hampir tidak ada gesekan.

Saat datang musim liburan jeda Liga Eropa, Salah memilih untuk tidak berlibur menghambur-hamburkan uang melimpah yang dimilikinya. Ia justru memilih pulang ke kampung halamannya di pedalaman Mesir, Nagrig. Ia habiskan liburan untuk bercengkrama dengan keluarga dan teman-teman lamanya. Bermain bola dengan mereka di lapangan yang sangat sederhana. Ia menunjukkan dirinya yang sekarang masih sama dengan Salah yang dulu. Ia gelontarkan uang yang sangat besar dari gajinya untuk disumbangkan ke sekolah dan membangun rumah sakit di kampung halamannya.

Jadi, yang menarik bagi banyak orang saat ini adalah perangai Salah di luar lapangan hijau. Ia pemain yang dikenal sangat rajin shalat di masjid di Liverpool. Bahkan, ia selalu menerima para fansnya di masjid. Secara tidak langsung, Salah ingin berdakwah bahwa masjid adalah tempat ibadah, bukan tempat untuk menempa para teroris.

Sebelum pertandingan Salah selalu terlihat membaca al-Quran. Tradisi yang biasa dilakukan oleh orang-orang Muslim di Mesir masih melekat pada dirinya. Jika kita pernah tinggal di Mesir, maka kita akan mendapatkan lantunan ayat-ayat al-Quran kerap terdengar di mobil, rumah, pasar, dan ruang publik lainnya.

Salah pun demikian, ia tidak pernah lupa membaca ayat-ayat suci al-Quran. Ia internalisasikan pesan-pesan al-Quran dalam tindakan nyata, bukan dalam kata-kata.

Perangai Salah yang mulia itu telah menginspirasi kaum milenial di seantero dunia. Ia menjadi Muslim yang menginspirasi umat Islam di manapun untuk selalu yakin pada cita-cita dan mimpi asalkan dijalani dengan tekun dan fokus. Menjadi seorang Muslim bukan sebuah halangan untuk berprestasi di Eropa dan belahan dunia lainnya.

Tidak hanya itu, akhlak Salah juga memesona kalangan Non-Muslim. Salah menjadi duta Islam yang sangat efektif di tengah kuatnya arus islamophobia di Eropa dan barat pada umumnya. Salah mencitrakan Islam sebagai agama yang ramah dan toleran. Senyum yang selalu terpancar dari wajah Salah adalah senyum yang disebutkan Nabi Muhammad SAW dalam hadisnya sebagai sedekah.

Sungguh, akhlak Salah di luar lapangan hijau telah menyihir kita semua. Decak kagum dan bangga dengan akhlak yang ditunjukkan Salah. Kita semua menjadi saksi, bahwa apa yang dikatakan Imam al-Ghazali dalam karyanya, Bidayat al-Hidayah adalah sebuah kebenaran, lisanul hal afshah minal lisanil maqal (Dakwah melalui perangai lebih baik dari pada dakwah melalui lisan). Salah membuktikan “lisanul hal” (keteladanan) lebih baik daripada “lisanul maqal” (ceramah).

Laporkan Iklan Tidak Layak: Klik
loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.