Biografi dan Pemikiran Ibnu Khaldun: Pengantar Singkat

0 20

Ibnu Khaldun merupakan salah satu sarjana Muslim terkemuka pada masa pra-modern. Ia membangun jenis ilmu yang sepenuhnya baru, yang ia sebut sebagai ilmu masyarakat-manusia (‘ilm al-ijtimā’ al-insāni) atau ilmu organisasi-sosial manusia (‘ilm al-‘umrān al-basyari). Selama berabad-abad, ilmu ini menimbulkan dampak kecil saja terhadap perkembangan pemikiran Muslim, tetapi sejak abad ke-19 dan seterusnya, menimbulkan pengaruh besar terhadap para pemikir Eropa, bahkan beberapa di antaranya menganggap Ibnu Khaldun sebagai seorang pelopor sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Dua kitab monumentalnya, al-‘Ibar dan al-Muqaddimah telah menorehkan sumbangan besar bagi ilmu-ilmu sosial. Kitab al-‘Ibar berisi laporan tentang kejadian-kejadian besejarah, sedangkan al-Muqaddimah mendiskusikan sebab-sebab pokok dan makna bathiniah (inner meaning) dari sejarah. Kajian tentang sebab-sebab pokok dan makna bathiniah sejarah ini membentuk disiplin baru yang disebut oleh Ibnu Khaldun sebagai ilmu masyarakat-manusia.

Pemikiran khas Ibnu Khaldun tentang sosiologi, filsafat sejarah, dan politik kemudian menjadi bahan kajian para pemikir dan cendekiawan baik di Timur maupun di Barat. Pemikiran Ibnu Khaldun terus digulirkan dalam berbagai diskursus pemikiran sosial politik kontemporer. Ia dikenal sebagai bapak sosiologi dan sejarawan yang menawarkan gagasan renovasi terhadap cakupan sejarah sekaligus seorang politikus muslim yang banyak memberikan inspirasi bagi terciptanya iklim kehidupan politik yang bersih.

Berangkat dari pengalaman dan pengamatannya yang tajam, Ibnu Khaldun merajut pikiran-pikiran kritis tentang hal-hal yang berkaitan dengan sistem kemasyarakatan dan kenegaraan berikut kritik-kritik inovatif terhadap cakupan sejarah sebagaimana tertuang dalam karya besarnya, al-muqaddimah yang dirampungkannya saat ia telah berusia 43 tahun.

Tulisan ini merupakan pengantar untuk mengenal dan menjelajahi biografi dan pemikiran Ibnu Khaldun. Secara otomatis, tulisan ini juga akan mengajak pembaca menoleh kebelakang, yakni pada abad 14 M. Masa itu kebudayaan Arab-Islam sedang dilanda kemunduran. Krisis ini lantas melebar ke jaringan-jaringan politik sebagai konsekuensi atas pecahnya imperium Islam menjadi negara-negara kecil yang dikendalikan oleh penguasa lemah dan tidak memiliki wawasan kerakyatan.

Tulisan ini akan berlanjut dan dikemas menjadi beberapa bagian untuk menampilkan diskusi singkat tentang bagaimana pemikiran-pemikirannya mungkin bisa dikembangkan lebih jauh dalam konteks ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan kontemporer.

Laporkan Iklan Tidak Layak: Klik
loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.