Negeri Rahasia Nuu Waar (Papua) - PesanKiai.com

Negeri Rahasia Nuu Waar (Papua)

Negeri Rahasia Nuu Waar (Papua)
Negeri Rahasia Nuu Waar (Papua). Photo: Ren Muhammad'
PESAN KIAI - NUN JAUH di lautan lepas Samudera Pasifik itu, pernah terjadi sebuah peristiwa heroik pada 15 Januari 1962. Tepat 56 tahun silam. KRI Harimau, KRI Macan Tutul, dan KRI Macan Kumbang, tengah menjalankan operasi senyap demi pembebasan Irian Barat dari cengekeraman Belanda. Dalam kegelapan samudera, tiga kapal perang yang ternyata tak dilengkapi torpedo itu, melaut dengan gagah berani. Padahal mereka sedang menuju "kandang harimau" dengan segenap peralatan perang terbaru di zamannya.

Namun malam naas itu memang harus terjadi. Operasi intelijen angkatan laut RI rupanya harus berhadapan dengan kontra intelijen Belanda. Ya, mereka ketahuan. Bom flare dijatuhkan pesawat tempur musuh. Kapal perang Karel Dorman mulai melepaskan tembakan, dan hampir mengenai KRI Harimau. Sadar sedang menantang maut, Komodor Yosaphat Sudarso yang memimpin KRI Macan Tutul, pasang badan bersama pasukannya. Menurut Letkol Umar Dhani, serta Sukirman dan Suharmaji (mantan dua ABK KRI Macan Tutul yang selamat dalam pertempuran tak berimbang di Laut Aru, perairan Maluku) Yos memilih mengorbankan nyawanya demi martabat Indonesia.

Setelah KRI Macan Tutul dihantam torpedo kali kedua, kapal perang ini akhirnya porak-poranda. Sebelum sungguh benar karam ke dasar laut, Laksda TNI-AL Anumerta Yosaphat Soedarso masih sempat memekikkan pesan, “Kobarkan semangat pertempuran!” yang melengking melalui saluran radio di dua KRI lain--& mungkin juga terdengar di seluruh saluran radio terdekat. Usai itu, seranganpun berhenti. Suasana kembali sunyi. Senyap. Tersisa debur ombak laut malam yang baru saja memeluk salah seorang putra terbaik negeri ini ke dalam haribaannya. Yos gugur pada usianya ke-37.

Kini, setengah abad sudah berlalu. Irian Barat telah bersalin nama menjadi Papua. Banyak yang telah berubah di pulau ini. Terutama setelah jalan Trans Papua dihampar mulus ratusan kilometer. Selama tiga hari di Jayapura, kami melihat dari jarak dekat sekelumit dinamika masyarakat paling timur Indonesia ini. Pasar Mama² (Mace²) baru saja diresmikan oleh presiden ketujuh. Di Sentani, tengah dibangun stadion baru provinsi. Manokwari sudah berubah menjadi ibukota Papua Barat. Sorong terus berbenah berbekal lokasi wisata Raja Ampat. Kita belum lagi mengupas bagaimana Freeport beberapa tahun belakangan ini. Tentu, masih banyak yang harus dikerjakan di sini dengan semangat gotong-royong.

Lima-sepuluh tahun ke depan, The Litle Hongkong ini kelak menyaingi kota-kota besar lain Indonesia. Jayapura sebagai ibukota Papua, saat ini menjadi wajan peleburan Indonesia dalam skala kecil. Anda bisa menemukan orang-orang dari beragam pulau dan suku-suku besar berkumpul di sini membangun adab baru. Satu yang paling kuat ikatan persaudaraannya adalah mereka yang datang dari Pulau Sulawesi dan Madura. Khusus pendatang dari pulau garam, sudah sejak 1970-an mereka mendiami Bumi Cenderawasih. Ada yang memilih berdagang sate, soto, sop ayam, atau pangkas rambut.

Kehadiran mereka turut mengubah gaya rambut dan penampilan orang Papua. Ditambah lagi dengan menjamurnya barbershop di sini. Sebagian besar digerakkan oleh anak-anak muda dari Makassar. Para pemuda Papua juga termasuk yang menjalankan hidupnya berdasar prinsip seni kebebasan. Bila tiba akhir pekan, mereka akan berkumpul di tepi jalan raya sambil ngerap, lengkap dengan stereo tape. Persis pemandangan di Latin Amerika.

Bersama tim Chief Barbershop, kami banyak belajar dari saudara-saudara kita di Timur. Mereka beragama dengan santun; berkehidupan dalam balutan tradisi yang kuat; mencintai Indonesia secara bersahaja. Fenomena ini jadi tesis utama bahwa bangsa besar ini memang terlahir dari rahim kebudayaan unggul, berjiwa besar, dan punya spirit yang tinggi untuk berbakti pada kehidupan. Sebagaimana petuah yang diyakini masyarakat suku Dani di Lembah Baliyem, "Apuni inyamukut werek halok yugunat tosu: Berbuatlah sesuatu yang terbaik terhadap sesama."

Sekadar pengingat, dulu pulau ini bernama Nuu Waar. Namanya masih sempat tersiar sampai era Aru Palakka, Sultan Tidore pada abad 15 Masehi. Pergantian nama Nuu Waar menjadi Papua dan Irian terjadi sejak 1214. Kata Papua diambil dari beberapa bahasa daerah di Nuu Waar, yang maknanya hitam, keriting, bodoh, jahiliyah, jahat, perampok, pemeras, pemerkosa, bahkan lebih sadis dari itu--dimaknai sebagai masyarakat yang suka makan orang. Konotasi negatif itulah yang membuat suku asli di sini tidak suka pada kata ‘Papua’. Namun oleh bangsa Portugis kata itu terus dikembangkan, sehingga membentuk opini. Upaya tersebut juga bagian dari politik memecah belah warga setempat. Setelah bangsa Portugis tidak lagi menjajah, nama Papua terus dipopulerkan oleh Belanda.

Selain ‘Papua’, kata ‘Irian’ juga tidak begitu disukai penduduk setempat. Kenapa? Kata ini juga berasal dari beberapa bahasa daerah di Nuu Waar. Seperti Mariiyen dari bahasa Biak artinya bumi yang panas, bahasa Onim (Patipi) dari Tiri Abuan arti ‘Irian’ adalah daratan besar.

Kata ‘Irian’ juga berasal dari bahasa Arab: ‘Urryan’. Ya, Islam lebih dulu masuk ke Nuu Waar. Agama ini sudah masuk sejak 1214 M dan dibawa oleh Syaikh Iskandar Syah dari Kerajaan Samudera Pasai. Lalu dilanjutkan oleh Raden Fatah pada 1400 M; Aru Pataka dari Bone (1611) dan Sultan Tidore (1816). Barulah pada Februari 1885, Kristen Protestan masuk, dan pada16 Maret 1930 masuk Kristen Katholik.

Ketika penjelajah masyhur, Ibnu Batuta mengelilingi dunia dan mendarat di Nuu Waar pada 1517 M, penduduk setempat masih memakai koteka. Dari pemandangan itulah keluar nama ‘Urryan’ untuk penduduk di Nuu Waar, yang berarti ‘negeri orang telanjang.'

Sejatinya, Nuu Waar adalah gabungan dua kata dari bahasa Irarutu di Kerajaan Nama Tota Kaimana, yakni Nuu Eva. Nuu bermakna sinar, pancaran atau cahaya. Sementara Waar dari kata Eva, yang bermakna ‘mengaku’ atau diterjemahkan secara lebih dalam berarti ‘menyimpan rahasia.' Dari bahasa Onim (Patipi) Nuu juga adalah cahaya. Waar artinya perut besar yang keluar dari perut Ibu. Maka nama Nuu Waar bisa diartikan dengan Negeri yang (mengaku) menyimpan/memikul Rahasia.

Jayapura, 23 November 1927 Saka

Oleh: Ren Muhammad
Editor: Noor Ahmad

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Negeri Rahasia Nuu Waar (Papua)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel