Warning Bahaya! Dari PNS Anti Pancasila Hingga Radikalisme di Masjid dan Kampus Ancam Indonesia - PesanKiai.com

Warning Bahaya! Dari PNS Anti Pancasila Hingga Radikalisme di Masjid dan Kampus Ancam Indonesia

Warning Bahaya! Dari PNS Anti Pancasila Hingga Radikalisme di Masjid dan Kampus Ancam Indonesia

PESAN KIAI - Berbagai hasil survey dan penelitian menunjukkan sinyal bahaya akan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kondisi ini terungkap setelah pemaparan Kemendagri dan Badan Intelijen Negara (BIN) beberapa waktu lalu terkait penolakan PNS atas Pancasila dan maraknya radikalisme di lingkungan negara dan kampus.

Dilansir Tirto.id, menurut Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Mayjen (Purn) Soedarmo, menyebut 19,4 pegawai negeri sipil (PNS) di Indonesia tidak setuju dengan ideologi Pancasila.

Soedarmo menyampaikan penolakan terhadap Pancasila di kalangan pegawai negeri tersebut jadi penyebab lemahnya ketahanan nasional.

"Yang menyebabkan turunnya ketahanan nasional di negara ini adalah penurunan di masalah ideologi. 19,4 persen PNS tidak setuju ideologi Pancasila," ujarnya di kantor Lembaga Persatuan Ormas Islam (LPOI), Jakarta Pusat, Sabtu (17/11/2018).

Data 19,4 persen PNS yang anti Pancasila itu dikutip dari survei Alvara Research yang dilakukan 10 September sampai 5 Oktober 2017 di 6 kota yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar.

Survei ini mengambil 1.200 responden dengan kalangan PNS, swasta/profesional dan di BUMN, dengan rentan usia 25-40 tahun.

Selain kalangan pekerja, Acara juga melakukan Alvara juga melakukan survei terhadap 1.097 reseponden yang berasal dari golongan milenial di 33 provinsi di Indonesia.

Hasilnya, sebanyak 40,9 persen responden generasi milenial muslim Indonesia berorientasi nasionalis-religius. Sedangkan yang berorientasi nasionalis sebesar 35,8 persen. Sementara milenial muslim yang berorientasi religius berjumlah 23,3 persen.

Lantaran itu lah, ia mendorong ormas-ormas moderat seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk memperkuat kehadirannya di kalangan terdidik dan kelas menengah muslim membendung penolakan terhadap Pancasila tersebut.

"Inilah bagaimana mana kita harus membenahi segera," tutur Soedarmo.

Sementara itu Badan Intelijen Negara (BIN) mencatat ada 41 masjid di lingkungan pemerintah dan tujuh perguruan tinggi negeri terpapar paham radikalisme. Selain itu 39 persen mahasiswa di 15 provinsi tertarik ajaran tersebut.

Juru bicara BIN, Wawan Purwanto menjelaskan temuan ini merupakan peringatan dini bagi Indonesia yang harus disikapi dengan hati-hati.

"Survei dilakukan oleh P3M NU, yang hasilnya disampaikan kepada BIN sebagai early warning dan ditindaklanjuti dengan pendalaman dan penelitian lanjutan oleh BIN," kata Wawan, saat ditemui di Restoran Sate Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (20/11/2018).

Ia menuturkan, terdapat sekitar 50 penceramah dengan konten yang menjurus radikalisme.

"Jadi, konten ceramahnya yang kita utamakan, karena itu kan setahun sudah ada daftar penceramahnya, kalau masjidnya sih enggak ada yang radikal, tapi penceramahnya," terang dia.

Dia menuturkan, keberadaan masjid di lingkungan pemerintah seharusnya steril dari hal-hal yang berbau radikal. Hal tersebut merupakan salah satu upaya BIN menjaga persatuan di Indonesia.

"Hal tersebut adalah upaya BIN untuk memberikan early warning dalam rangka meningkatkan kewaspadaan, tetap menjaga sikap toleran dan menghargai kebhinekaan," ujar dia.

Hal serupa juga muncul di dunia akademis. Tujuh kampus terindikasi terpapar radikalisme.

"Tujuh perguruan tinggi tersebut benar ada, kami sampaikan ke rektor untuk evaluasi, deteksi dini dan cegah dini," ujar Juru bicara kepala BIN, Wawan Hari Purwanto ‎di Jakarta, Selasa (20/11/2018).

Namun, Wawan enggan menyebutkan nama tujuh perguruan tinggi negeri tersebut‎ karena hal tersebut bersifat rahasia dan menghindari ketakutan dari pihak orang tua yang anaknya belajar di kampus tersebut.

‎Sementara 39 persen mahasiswa yang berminat paham radikal, kata Wawan, tingkatannya beragam dari rendah sampai tinggi ketertarikannya.

"Tapi lebih pada simpatisan, kalau dibiarkan nanti jadi empati dan partisipasi, pada tahap awal sudah kita upayakan terditeksi, kita lakukan edukasi literasi," ujar Wawan. (Tirto/Tribun/Kompas.com)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Warning Bahaya! Dari PNS Anti Pancasila Hingga Radikalisme di Masjid dan Kampus Ancam Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel