Tahlilan dan Salaman Setelah Sholat Dalam Kaidah Ushul Fiqih

0 47
Tahlilan dan Salaman Setelah Sholat Dalam Kaidah Ushul Fiqh
Gusdurian Tahlilan di PBNU. Image: NU Online
PESAN KIAI – Takhsis (mengkhususkan) umum dengan tradisi. Jika tradisi itu berupa tradisi istilah maka para ulama mengatakan boleh saja. Seperti misalnya kata infaq yang berarti semua jenis sedekah, tatapi tradisi menganggap bahwa infaq adalah hanya zakat.
Jika tradisi berupa pekerjaan, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama Syafi’iyah. Pendapat terkuat mengatakan tradisi seperti itu tidak dianggap dan ketentuan umum tetap diberlakukan. Teori ini memperkuat amaliyah kalangan jamiyah Nahdlatul Ulama (NU). Banyak dalil-dalil umum ditakhsis oleh tradisi NU, namun tetap diberlakukan hukum umumnya.
Contohnya:
Dalam kitab Sahih Bukhari dalam Bab Keutamaan Tahlilan disebutkan hadist berikut:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من قال لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير في يوم مائة مرة كانت له عدل عشر رقاب وكتب له مائة حسنة ومحيت عنه مائة سيئة وكانت له حرزا من الشيطان يومه ذلك حتى يمسي ولم يأت أحد بأفضل مما جاء إلا رجل عمل أكثر منه
Dari Abu Hurairah RA. Rasulullah saw bersabda: barangsiapa membaca
 
لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dalam sehari 100 kali maka baginya pahala memerdekakan 10 budak, ditulsi baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 dosa, dilindungi dari setan hari itu sampai sore. Tidak ada amal yang lebih baik kecuali melakukannya lebih banyak. (HR. Bukhari)
Hadist ini umum tidak menjelaskan detail tata cara melaksanakannya. Nah ada tradisi di kalangan jamiyah NU membaca itu pada hari ke-7 orang meninggal, hari ke-40 orang meninggal, pada saat hajatan. Ini mentakhsis hadist tersebut di atas yang bersifat umum apakah boleh?
Secara teori, tradisi tadi tidak mempengaruhi keumuman hadist tersebut, maka hadist tersebut tetap berlaku dan pembacanya walaupun dalam kondisi khusus pas hari 40 orang meninggal tetap dapat pahala.
Contoh lain: ada hadist berikut:
عَنْ حُذَيْفَةَ ابْنِ اليَمَانِ رَضِيَ الله عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
“إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْمُؤْمِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ”. أخرجه الطبراني فى الأوسط (1/84 ، رقم 245 ) وصححه الألباني في “السلسلة الصحيحة” ( 6 / 431 ).
Dari Hudzaifah bin Alyaman RA. dari Rasulullah saw beliau berkata: Apabila seorang mukmin ketemu mukmin yang lain lalu mengucapkan salam lalu mengambil tangannya lalu bersalaman, maka rontoklah dosa keduanya seperti rontoknya dedaunan. Thabrani dll.
Ini hadist umum menganjurkan bersalaman tidak  menentukan waktunya. Di kalangan NU mereka kadang mengkhususkan bersalaman setelah sholat kepada orang yang di sampngnya.

Baca juga: Amaliah Yang Diajarkan Mbah Maimoen Zubair Agar Allah Melancarkan Rezeki Kita

Secara teori ushul fiqh, salaman mereka setelah sholat tidak mempengaruhi keumuman hadist di atas sehingga bersalaman setelah sholat atau pada kondisi lainnya pahalanya sama.
Wallahu a’lam

Oleh: Muhammad Niam, Pengasuh Pesantren Virtual
Laporkan Iklan Tidak Layak: Klik
loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.