Urgensi Aktualisasi Ajaran Kesabaran dalam Kehidupan Sehari-hari

0 447

Alhamdulillah saya bisa sowan dan ngaji langsung pada Guru kami, Pak Tain, nickname atau nama panggilan akrab Shâhibul Fadhîlah Dr. KH. Ahmad Musta’in Syafiie, M.Ag., pakar tafsir Tebuireng, Jombang Jawa Timur.

Sowan ini sekaligus merupakan pertemuan saya dengan beliau secara langsung bukan bilmedsos, setelah 16 tahun tidak bertemu (sejak 2003, kelulusan saya dari Fakultas Syariah IKAHA [Institut Keislaman Hasyim Asyari], sekarang UNHASY [Universitas Hasyim Asyari] Tebuireng Jombang), dalam acara kajian yang diberi tema besar ”Merasakan Al-Quran”, di Financial Hall, Lt. 2, Grand CIMB Niaga CBD, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 58 Senayan, Kec. Kebayoran Baru Jakarta Selatan, pada malam Kamis, 21 Dzulhijjah 1440 H, bertepatan dengan tanggal 21 Agustus 2019 M.

Sungguhpun begitu, ternyata kami, yakni tulisan kami sudah bertemu dalam Majalah Risalah NU, edisi 86, Sept 2018. Tulisan Pak Tain, rubrik Kajian Tafsir, Syukuran Menang Pilkada, Syukuran Mendapat ”Neraka”, hlm. 44-46. Dan tulisan saya di rubrik Fikrah, Dakwah di Negeri Beton Hong Kong (2), hlm. 30-31.

Saya memang hadir di acara ini untuk ngaji kepada beliau, termasuk tentu silaturahim mohon doa untuk kesuksesan dan keberkahan hidup.

Banyak sekali mutiara hikmah dan pencerahan khas ala Pak Tain, yang kami dapatkan, di antaranya tentang keteladan Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As, ketidaksombongan, tidak egoistik, dan kesabaran keduanya, tentang purifikasi keimanan, ketegaran Sayidah Hajar yang patut diteladani bagi para isteri, dll.

Mengenai teladan kesabaran dan ketidak sombongan atau ketidakegoan (‘adam al-ananiyyah), misalnya, kita dapat mencontoh Ismail, yang saat peristiwa syariat kurban, ketika ayahnya, nabi Ibrahim As menyampaikan bahwa ia mendapat perintah dari Allah SWT meskipun melalui mimpi agar menyembelih Ismail, sang anak satu-satunya yang anak-anak usia 13 tahunan. Ismail menjawab, terekam kisahnya dalam Kitab Suci Al-Quran Al-Karim:

قَالَ يٰۧاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرْ سَتَجِدُنٍيْ إِنْ شَاءَ اللّٰهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ – اَلصَّافَّاتُ ٣٧ : ١٠٢

Terjemah: Dia (Ismail) menjawab, ”Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. Al-Shâffât [37]:102)

Kesabaran yang disertai sikap menghindarkan egoisme justeru menjadi prasyarat kesuksesan dan keberuntungan. Kesabaran Ismail yang disertai dengan penafian egoisme itu, yang diungkapkan dalam redaksi ”satajidunî insyâ Allâhu minash shâbirîn”, menghasilkan kesuksesan dan keberuntungan. Yaitu patuh menjalankan perintah Tuhan, sehingga ia dan Ibrahim As, menjadi lulus dan sukses dalam fit and proper test menjalankan titah Tuhan, keduanya selamat sentosa. Bahkan hikmahnya, syariat kurban terus berlangsung diteruskan oleh Nabi Muhammad SAW dan menjadi ajaran dan karakteristik Islam yang penuh dengan nilai kemaslahatan bukan hanya bagi manusia, tapi juga bagi alam semesta, rahmatan lil alamin.

Hal ini berbeda dengan jawaban Nabi Musa As takkala ditegur oleh Nabi Hidhir bahwa ia telah melakukan kekeliruan dalam perantauan meraih hikmah pada sang Guru. Musa menjawab dengan mengatakan:


قَالَ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللّٰهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِيْ لَكَ أَمْرًا – الكهف ۱٨: ٦٩

Terjemah: Dia (Musa) berkata, ”Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan akan tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.” (QS. Al-Kahf [18]: 69).

Nabi Musa As dalam hal ini, tidak dinyatakan lulus dalam fit and proper test oleh Nabi Hidhir, di antaranya, dapat dicermati ada aspek ananiyah (egoisme), dalam kata-katanya, satajidunî insyâ Allâhu shâbiran, insya Allah, engkau akan mendapati aku seorang yang sabar. Berbeda dengan kata-kata Ismail, satajidunî insyâ Allâhu minash shâbirîn, artinya insya Allah, engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar, menunjukkan sikap kerendahdirian dan tidak egoistik, karena menganggap dirinya hanya bagian dari banyak orang yang berlaku sabar. Bukan hanya dirinya saja yang berlaku sabar.

Ajaran sabar ini penting diaktualisasikan dan direvitalisasikan dalam kehidupan nyata, kehidupan individu sehari-hari, dan dalam hubungan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Caranya adalah dengan menghindarkan dan menjauhkan sikap dan perilaku egoistik, yang ini bisa menyulut emosi, kemarahan dan anarkisme.

Oleh karena urgensi kesabaran itu, Hujjatul Islam Abû Hâmid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Ibn Muhammad Al-Ghazâlî r.a. (450-505 H/1058-1111 M) dalam kitab populer Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn (Surabaya: al-Hidâyah, tt., Juz IV: 67-68), mengatakan bahwa:

إعلم أن جميع ما يلقى العبد في هذه الحياة لا يخلو من نوعين: أحدهما هو الذي يوافق هواه. والآخر هو الذي لا يوافقه بل يكرهه، وهو محتاج إلى الصبر في كل واحد منهما، وهو في جميع الأحوال لا يخلو عن أحد هذين النوعين أو عن كليهما، فهو إذن لا يستغني قط عن الصبر.

“Ketahuilah bahwa seluruh yang dihadapi seorang manusia dalam kehidupan ini tidak lepas dari dua macam, yaitu salah satunya, sesuatu yang sesuai dengan keinginannya; dan yang lain adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, justeru dibencinya. Dia butuh kepada kesabaran dalam setiap keduanya, dan dia dalam seluruh keadaan tidak lepas dari dalah satu kedua jenis ini atau dari keduanya. Maka, dengan begitu, ia sama sekali tidak bisa cukup tanpa kesabaran.”

Dengan hikmah dan pencerahan tersebut, mudah-mudahan kita semua mendapatkan manfaat, kebaikan dan keberkahan bagi hidup kita. Terima kasih, syukran jazîlan, terutama kami sampaikan kepada Pak Tain, karena kami bisa terus mendapat hikmah dan pencerahan yang penting ini.

Cimone Jaya Karawaci Kota Tangerang, Malam Jumat, 22-12-1440/22-8-2019

Oleh: Ustadz Ahmad Ali MD

Laporkan Iklan Tidak Layak: Klik
loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.