Rujukan Masalah Ucapan Selamat Natal Dalam Islam

0 380

RUJUKAN, REFERENSI KEAGAMAAN KITA MENGENAI MASALAH MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

Berikut Tulisan guru kami, Shahibul Fadhilah Buya KH Dr. (HC.) Husein Muhammad, Penulis Prolifik, Pengasuh Pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun Cirebon Jawa Barat, Sahabat Almarhum Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bersumber dari Akun Facebook beliau Husein Muhammad, tulisan berjudul NATAL DI MESIR dan beberapa tulisan ada 5 bagian: bagian 1-5 (habis) tertanggal 24-25 Desember 2019, terkait masalah Mengucapkan Selamat Natal.

Dikompilasi oleh Al-Faqîr ilâ Rahmatillâh Ahmad Ali MD, MA., penulis keislaman, dai moderat dan pengusaha Roti Elika, tanggal 25-12-2019 hingga pukul 09.35 WIB.


Buya Husein Muhammad di Facebook menulis [saya copy paste sebagaimana adanya] berikut ini:

NATAL DI MESIR

Mesir adalah negara Islam terkemuka. Di samping negeri Piramida di sana ada Universitas Islam tertua di dunia dan sangat terkenal; Al-Azhar. Semula ia adalah Jami’, masjid. Panglima Perang, dari dinasty Fatimiy yang Syi’ah, Jauhar dari Sicilia, pembangunnya, menjadikan masjid itu bukan hanya sebagai tempat shalat, tetapi juga pusat belajar, seperti fungsi masjid zaman Nabi. Tak lama kemudian ia berubah menjadi Universitas (al Jami’ah). Universitas ini menjadi pusat keilmuan Islam Internasional sejak 1000 tahun dan telah melahirkan ratusan ribu ulama besar. Pikiran-pikiran dan buku-buku mereka menjadi rujukan masyarakat muslim di seluruh dunia sepanjang masa. Dalam kurun waktu yang cukup panjang itu, otoritas keagamaan al Azhar, tak pernah terusik untuk meruntuhkan peradaban non muslim yang penuh pesona itu. Hari ini ada sekitar 7000 mahasiswa Indonesia yang belajar di sana.

Di negara ini banyak masjid yang berdiri berdampingan dengan gereja. Ini menunjukkan hidup berdampingan antar umat beragama dalam relasi saling menghormati berlangsung dalam damai.

Ketika Natal tiba, seluruh warga negeri ini seakan larut dalam kegembiraan bersama. Mereka memperlihatkan dengan nyata makna kebersamaan dan persaudaraan, meski dengan keyakinan dan agama berbeda. Di sana juga ada semacam tradisi di mana pemimpin tertinggi agama Islam dan pemimpin tertinggi agama Kristen saling mengucapkan selamat dan menyampaikan simpati pada hari raya masing-masing. Pemimpin Islam mengucapkan “selamat hari Natal” dan pemimpin tertinggi Kristen mengucapkan “selamat Idul Fitri”. Mereka tetap dalam keyakinan dan keimanannya masing-masing. Grand Syeikh Al-Azhar, pemimpin Islam tertinggi, selalu hadir dalam perayaan Natal umat Kristen (Koptik) di sana. Ini moment penting bagi perwujudan persaudaraan umat manusia, dan perdamaian bangsa dan penghormatan atas segala jenis perbedaan.

Al-Syeikh Al-Akbar Al Azhar University, Prof Dr Ahmad Al Tayeb. Dua hari menjelang natal, mengunjungi Katedral Gereja Koptik untuk bersilaturrahim dengan Pemimpin Tertinggi Koptik, Paus Tawadrous II yang oleh rakyat Mesir menyapanya Baba Tawadrous.

“Sesungguhnya ziarah ke Kaderal ini untuk menyampaikan selamat Natal kepada Baba Tawadrous dan saudara-saudara Koptik,” kata Syeikh yang disiarkan secara luas oleh media massa di Timur Tengah.

“Dengan hati yang tulus saya sampaikan Selamat Natal kepada Baba Tawadrous, dan harapan terbaik untuk seluruh saudara Koptik dalam rangka peringatan Natal,” tulisnya.

Pemimpin tertinggi Al Azhar tersebut juga menyinggung kedekatan hubungan dan langkah-langkah bersama dalam mendukung rasa persaudaraan dan persatuan.

Dalam Bulan Desember suasana Natal begitu terasa di mana-mana. Restoran penuh dengan dekorasi Natal disertai ucapan Natal : “Id Milad al-Masih al-Majid”. Di balik kaca penutup meja makan semua restoran juga ada selebaran-selebaran yang mengajak setiap tamu yang datang untuk ikut bersyukur kepada Tuhan atas kelahiran Nabi Isa atau Yesus. Pemilik restoran banyak yang beragama Islam. Betapa indahnya kebersamaan relasi antar umat beragama dengan kekokohan keyakinan diri masing-masing.

Keadaan seperti di atas tidak hanya terjadi di Mesir, melainkan juga di negara-negara Islam yang lain seperti Suriah, Lebanon, Irak dan Qatar, Kuwait, Turki dan lain-lain.

Selamat Natal untuk umat Kristiani. Damai di hati, Damai di bumi. Semoga Kasih Sayang antar umat manusia terjalin selama-lamanya, sepanjang zaman.

(Ini adalah sebagian tulisan tentang Natal yang pernah ditulis di sini beberapa tahun lalu).

24.12.19
HM


Aku ditanya teman, bagaimana pandangan Ulama tentang ucapan Selamat Natal?.

(1)

Syeikh Said Ramadhan Al-Buthi, ulama besar Siria, yang wafat saat mengaji, karena dibom kaum ekstrimis kekerasan, saat ditanya : “Bolehkah mengucapkan kata “Selamat” pada Non Muslim saat Hari raya Agama mereka, terutama umat Nasrani (Kristen)?, menjawab :

يجوز تهنئة الكتابيين : النصارى واليهودي بأفراحهم ويجوز تعزيتهم بمصائبهم بل يسن ذلك كما نص عليه الفقهاء ويجوز الدخول لمعابدهم لمناسبة ما بشرط ان لا يشترك معهم في عبادتهم

“Boleh mengucapkan kata “Selamat” pada dua kelompok Ahlul kitab saat hari raya mereka. Baik itu Umat Yahudi ataupun Nasrani. Dan juga boleh Menta’ziyahi mereka saat terkena musibah, bahkan hal tersebut disunnahkan, sepertihalnya yg dijelaskan oleh ulama’ Ahli fiqh. Dan boleh masuk ke dalam tempat peribadatan mereka dalam rangka menyesuaikan (lingkungan) dengan syarat tidak mengikuti dalam ritual peribadatan mereka”. (Istifta al-Naas, hlm. 10).

Syeikh Sa’id Ramdhan juga mengatakan : Kami di Siria tempat kelahiran agama-agama, pusat peradaban, tempat perjumpaan gagasan kemanusiaan dan cahaya toleransi, menghargai seluruh warga/penduduk dengan segala perbedaannya, untuk menyampaikan Selamat Natal. Semoga hari-harinya selalu baik dan diberkati Tuhan.

(Bersambung)

24.12.19
HM


Pandangan Syeikh Yusuf al-Qardhawi

(2)

Syeikh Dr. Yusuf al Qardhawi, ketua Ulama Islam sedunia dari Mesir menyampaikan pandangannya yang sangat menarik dan kontekstual, mengenai ucapan Natal untuk umat Kristiani. Katanya :

أن تغير الأوضاع العالمية، هو الذي جعلني أخالف شيخ الإسلام ابن تيمية في تحريمه تهنئة النصارى وغيرهم بأعيادهم، وأجيز ذلك إذا كانوا مسالمين للمسلمين، وخصوصا من كان بينه وبين المسلم صلة خاصة، كالأقارب والجيران في المسكن، والزملاء في الدراسة، والرفقاء في العمل ونحوها، وهو من البر الذي لم ينهنا الله عنه. بل يحبه كما يحب الإقساط إليهم “إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ” الممتحنة. ولا سيّما إذا كانوا هم يهنئون المسلمون بأعيادهم، والله تعالى يقول: “وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا”

“Perubahan sistem pemerintahan dunia telah membuat saya berbeda pendapat dengan Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah yang mengharamkan mengucapkan Natal kepada kaum Nasrani. Saya membolehkannya jika dalam situasi damai. Terlebih lagi bagi orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga, tetangga, teman-teman kuliah atau kerja. Ucapan Natal kepada mereka merupakan bentuk “al-Birr” (kebajikan). Tuhan tidak melarang bahkan senang jika kita melakukan kebaikan dan bertindak adil. Apalagi jika mereka memberikan ucapan selamat kepada hari raya kita. Allah mengatakan : “Jika kamu memeroleh kehormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan cara yang lebih baik atau minimal dengan penghormatan yang sama”.

(Bersambung)

24.12.19
HM


(Sambungan)

(3)

Syeikh Dr. Mushtafa al-Zarqa, ulama besar Al-Azhar, anggota parlemen tiga periode dan mantan Menteri Kehakiman Mesir, mengatakan :

إنّ تهنئةَ الشّخص المُسلِم لمعارِفه النّصارَى بعيدِ ميلاد المَسيح ـ عليه الصّلاة والسلام ـ هي في نظري من قَبيل المُجاملة لهم والمحاسَنة في معاشرتهم. وإن الإسلام لا ينهانا عن مثل هذه المجاملة أو المحاسَنة لهم، ولا سيّما أنّ السيد المَسيح هو في عقيدتنا الإسلاميّة من رسل الله العِظام أولي العزم، فهو مُعظَّم عندنا أيضًا،

“Seorang muslim yang mengucapkan selamat kepada teman-temannya yang Kristiani, atas kelahiran Isa al Masih, As, menurut saya merupakan hal yang baik dan etika dalam pergaulan sosial. Islam tidak melarang sikap ini, apalagi Isa Al-Masih yang dalam aqidah/keyakinan Islam adalah Rasul besar dan salah satu “Ulul al Azmi”. Ia sangat dihormati dalam agama kita.

Senada dengan pandangan Syeikh Musthafa Zarqa, Dr. Muhammad Abd Allah al-Syarqawi, Prof. Teologi dan Agama-agama, Univ. Qatar, menyatakan :

“Dalam moment hari raya umat Kristiani: Natal, tidaklah mengapa seorang muslim menyampaikan ucapan selamat Natal kepada tetangganya, guru, murid, teman kantor atau teman sekolahnya yang beragama Nasrani. Ini merupakan tuntunan Islam yang bijaksana yang menegaskan keharusan kita bertindak adil dan berbuat baik kepada warga Negara beragama Kristen Koptik, sesuai dengan firman Allah : “Tuhan tidak melarang kita untuk berbuat baik dan bertindak adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu atas nama agama dan tidak mengusirmu dari tanah airmu”.

(Bersambung)

24.12.19
HM


Pandangan Gus Dur

(Sambungan 4)

Gus Dur punya pendapat yang sama dengan para ulama di atas sekaligus juga menarik. Dalam tulisannya berjudul “Harlah, Natal dan Maulid yang ditulisnya di Yerussalem, 20 Desember 2003 Gus Dur antara lain mengatakan : “Natal, dalam kitab suci Alquran disebut sebagai yauma wulida (hari kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip: “Kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)” (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada Beliau atau kepada Nabi Daud”.

“Firman Allah dalam surat al-Maryam:

والسلام علي يوم ولدت

“Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku”, jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa.

Bahwa kemudian Nabi Isa ‘dijadikan’ Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah suatu hal yang lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu”.
“Artinya, Natal memang diakui oleh kitab suci Alquran, juga sebagai kata yang menunjukkan hari kelahiran Beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga.

Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda-beda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud yang berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan. Jika penulis merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah Swt.

“Penulis menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannnya bersama-sama. Dalam literatur fikih, jika kita duduk bersama-sama dengan orang lain yang sedang melaksanakan peribadatan mereka, seorang Muslim diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut dalam ritual kebaktian”.

(Bersambung)

25.12.19
HM


KEPUTUSAN DEWAN FATWA MESIR

(Sambungan 5- habis)

Sekretariat Dar al-Ifta, (Lembaga Fatwa) Mesir, menegaskan boleh mengucapkan selamat kepada non muslim pada hari raya mereka, sepanjang tidak dengan kata-kata yang bertentangan dengan aqidah Islam. Fatwa ini juga menyatakan bahwa perbuatan tersebut termasuk dalam prinsip berbuat baik yang diperintahkan Allah terhadap semua orang tanpa perbedaan, berdasarkan firman Allah, “Ucapkan kepada manusia kata-kata yang baik”, dan “Sesungguhnya Allah menyuruh kita berbuat adil dan kebaikan”.

Fatwa tersebut mendasarkan pada ketentuan Al-Qur’an yang menyatakan dengan jelas dan tegas bahwa Allah tidak melarang kita untuk berbuat baik kepada orang-orang non muslim, berelasi dengan mereka dan saling memberi hadiah, dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya. Al-Qur’an menyatakan,

“Allah tidak melarang kamu terhadap orang-orang yang tidak menyerangmu dan tidak mengusirmu dari negerimu, untuk berbuat baik dan adil terhadap mereka. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.”

اكدت أمانة الفتوى بدار الإفتاء المصرية جواز تهنئة غير المسلمين بأعيادهم، شريطة ألا تكون بألفاظ تتعارض مع العقيدة الإسلامية، وقالت الفتوى إن هذا الفعل يندرج تحت باب الإحسان الذى أمرنا الله عز وجل به مع الناس جميعا دون تفريق، مذكرة بقوله تعالي: وقولوا للناس حسنا وقوله تعالي: إن الله يأمر بالعدل والإحسان.
وقالت ان الفتوى تستند الى النص القرآنى الصريح الذى يؤكد أن الله تبارك وتعالى لم ينهنا عن بر غير المسلمين، ووصلهم، وإهدائهم، وقبول الهدية منهم، وما إلى ذلك من أشكال البر، وهو قوله تعالي: لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم فى الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين.

25.12.19
HM


Semoga tulisan tersebut bermanfaat, hadaanallâhu waiyyâkum ajma’în. Dikompilasi oleh Ahmad Ali MD, MA., hingga pukul 09.35 WIB.

Leave A Reply

Your email address will not be published.