Fikih Gerhana: Panduan Shalat Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan

0 567

Di Indonesia, menurut perhitungan Kalender yang diterbitkan oleh Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), pada tanggal 31 Januari 2018 terjadi Gerhana Bulan.

Hari ini, Kamis, 26 Desember 2019, menurut Kalender Lembaga Falakiyah PBNU dan Surat Pengumuman bernomor 031/B/LFPBNU/XII/2019, yang ditandatangani oleh ketua dan sekretarisnya, (ketuanya masyhur, Drs. KH. Ghazalie Masrorie), terjadi Gerhana Matahari Cincin di berbagai belahan tanah air di Indonesia, sekitar 3 jam. Fase Gerhana Matahari Cincin (GMC) untuk di DKI Jakarta (awal 10:42:42; tengah 12:36:14; akhir 14:23:19 WIB) dan Banten (awal 10:40:52; tengah 12:33:57; akhir 14: 21:37 WIB).

Untuk data lengkapnya silahkan dapat dilihat dalam surat pengumuman berikut lampirannya yang dikeluarkan oleh LF PBNU tersebut.

Bagi umat Islam, terjadinya gerhana bulan ataupun gerhana matahari merupakan bentuk kemahakuasaan Allah Tabaraka WaTaala.

Oleh karena itu, kita sangat dianjurkan (sunnah muakkad) mengerjakan shalat gerhana ini.

Untuk gerhana matahari disebut Shalat al-Kusûf (صلاة الكسوف), sedangkan untuk Shalat Gerhana Bulan disebut Shalat al-Khusûf (صلاة الخسوف).

Keduanya (Shalat Gerhana Matahari dan Shalat Gerhana Bulan) hukumnya Sunnah Muakkad, yakni sangat dianjurkan untuk dikerjakan oleh setiap orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan, orang yang mukim (tidak sedang safar) maupun orang yang musafir (sedang dalam safar), baik merdeka maupun budak, baik dilakukan sendirian maupun berjamaah. Bahkan hukum sunah muakkad ini berlaku pula untuk wali orang yang telah mumayyiz agar menyuruhnya untuk mengerjakan Shalat Gerhana ini.
Sunnah Muakkad maksudnya sangat dianjurkan untuk dikerjakan, sehingga makruh bila ditinggalkan.
Dasar hukumnya adalah HR Bukhari Muslim dari Jamaah dari Sahabat (di antaranya Ibnu ‘Umar, Ibn ‘Abbas dan Abû Mûsâ) dari Rasulullah SAW.

Shalat Gerhana ini tidak disunahkan untuk dikerjakan secara qadha’, bila sudah lewat waktunya.

Tatacara Melaksanakan Shalat Gerhana

Tata cara melaksanakan Shalat Gerhana ada 3 (tiga) macam.
Pertama, minimal dilakukan dua rakaat, sebagaimana shalat sunah dzuhur.

Kedua, yang lebih sempurna, dilakukan dengan dua kali rukuk dan dua kali berdiri dalam setiap rakaat, tanpa memperpanjang bacaan suratnya.

Ketiga, tata cara yang paling sempurna, dilakukan sebagaimana tata cara yang kedua di atas, yakni dilakukan dengan dua kali rukuk dan dua kali berdiri (i’tidal), tetapi dengan memperpanjang bacaan suratnya.

Niat dalam hati melakukan Shalat Gerhana Matahari atau Shalat Gerhana Bulan, yang niat ini sunah dilafadzkan (diucapkan). Dalam hakikatnya dan prakteknya, niat ini dibarengkan (dibersamakan) dengan Takbiratul Ihram, membaca Allâhu Akbar. Meskipun muqâranah niat dengan Takbiratul Ihram itu secara relatif (taqrîban), bukan yang sebenar-benarnya membarengkan keduanya (haqîqiyan).

Niat Shalat Gerhana yang Dilafadzkan:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْكُسُوْفِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (إِمَامًا/مَأْمُوْمًا) ِللهٍ تَعَالَى

أصلي سنةَ الْخُسُوْفِ ركعتين مستقبل القبلة (إماما/مأموما) لله تعالى.

Bila dalam shalat jamaah, ditambahkan kata imâman bagi imam, dan kata makmûman bagi makmum.

Kata imâman bagi imam tersebut hukumnya sunah. Dan kata makmûman bagi makmun hukumnya wajib.

  1. Takbiratul Ihram (membaca Allâhu Akbar) dengan niat shalat kusûf untuk gerhana matahari, atau niat shalat khusûf untuk gerhana bulan.
  2. Kemudian membaca Doa Iftitah, hukumnya sunah.
  3. Kemudian membaca Ta’awwudz (A’ûdzu billâhi minasy Syaithânir Rajîm), hukumnya sunah.
  4. Kemudian membaca Surat Al-Fatihah.
  5. Kemudian rukuk (rukuk pertama), dengan memperpanjang bacaan Tasbih;
  6. Kemudian mengangkat kepala bangun dari rukuk;
  7. Kemudian i’tidal (berdiri tegak dari rukuk);
  8. Kemudian membaca Surat Al-Fatihah yang kedua;
  9. Kemudian rukuk yang kedua, dengan membaca Tasbih yang lebih ringan/pendek/tidak lebih lama dibandingkan dengan rukuk yang pertama;
  10. Kemudian i’tidal yang kedua;
  11. Kemudian sujud dua kali dengan tuma’ninah.
  12. Kemudian berdiri kembali, untuk rakaat yang kedua.
  13. Membaca Al-Fatihah kembali (Al-Fatihah ketiga);
  14. Kemudian membaca surat kembali;
  15. Kemudian rukuk kembali (rukuk ketiga) dengan memperpanjang bacaan Tasbih;
  16. Kemudian i’tidal kembali (i’tidal ketiga);
  17. Kemudian membaca Surat Al-Fatihah kembali (Al-Fatihah keempat);
  18. Kemudian membaca surat kembali (surat keempat);
  19. Kemudian rukuk kembali (rukuk keempat) dengan memperpanjang bacaan Tasbih;
  20. Kemudian i’tidal kembali ;
  21. Kemudian sujud dua kali, dipisah dengan duduk di antara dua sujud ini;
  22. Kemudian membaca Tahiyat;
  23. Kemudian membaca dua Kalimat Syahadat;
  24. Kemudian membaca Shalawat Nabi, dengan disertai bacaan Sayyidinâ:
    اللهم صل على سيدنا محمد، وعلى آل سيدنا محمد، كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم، وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد، كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم، في العالمين إنك حميد مجيد.
  25. Kemudian membaca doa;
  26. Kemudian mengucapkan salam.

Penting untuk diperhatikan tata cara melakukan Shalat Gerhana ini.

1) Tentang Bacaan Jahar (Nyaring/Keras) atau Sirr (Tidak Nyaring/Tidak Keras)

Untut Shalat Gerhana Matahari, bacaan Fatihah dan surat-suratnya, disunahkan untuk dibaca sirr (pelan/tidak keras/tidak nyaring), karena merupakan golongan Shalat Siang (Nahâriyyah). Sedangkan untuk bacaan AlFatihah dan surat-suratnya dalam Shalat Gerhana Bulan disunakan dilakukan dengan jahar (dibaca keras/nyaring), karena merupakan golongan Shalat Malam (shalât lail) atau yang dipersamakan dengan shalat malam (mulhaqah bihâ).

2) Perihal bacaan surat dalam rakaat Shalat Gerhana yang sebaiknya dilakukan bila memungkinkan sebagai berikut:

  1. Dalam berdiri yang pertama dalam rakaat pertama setelah baca Al Fatihah yang pertama, membaca Surat Al-Baqarah lengkap, bila tidak bisa, maka seukuran Surat Al-Baqarah yang lengkap ini;
  2. Dalam berdiri yang kedua dalam rakaat pertama, setelah membaca Al Fatihah, membaca Seukuran 200 ayat dari Surat Al-Baqarah.
  3. Dalam berdiri yang ketiga, dalam rakaat yang kedua, setelah membaca Al-Fatihah, membaca Seukuran 25 ayat dari Surat Al-Baqarah.
  4. Dalam berdiri yang keempat dalam rakaat kedua, setelah membaca surat Al-Fatihah, membaca seukuran 100 ayat Al-Baqarah.

Atau dalam berdiri yang kedua dalam rakaat pertama tersebut, setelah membaca Al-Fatihah, membaca Surat Ali ‘Imran atau seukuran surat Ali ‘Imran;

Dalam berdiri yang ketiganya dalam rakaat kedua tersebut, setelah membaca Surat Al-Fatihah, membaca Surat An-Nisa atau seukuran Surat An-Nisa;

Selanjutnya dalam berdiri yang keempat dalam rakaat yang kedua tersebut, setelah membaca Al-Fatihah, membaca Surat Al-Maidah atau seukuran Surat Al-Maidah.

3) Tentang Ukuran Lamanya Bacaan Tasbih dalam Rukuk

(1) Dalam rukuk yang pertama, membaca tasbih sebanyak-banyaknya seukuran 100 ayat Surat Al-Baqarah;

(2) Dalam rukuk yang kedua, membaca tasbih sebanyak-banyaknya seukuran 80 ayat AlBaqarah;

(3) Dalam rukuk yang ketiga, dalam rakaat kedua, membaca tasbih sebanyak seukuran 70 ayat Al Baqarah;

(4) Dalam rukuk yang keempat, dalam rakaat kedua, membaca tasbih sebanyak-banyaknya seukuran 50 ayat Al Baqarah.

3) Perihal Lamanya Sujud

Menurut pendapat yang Mu’tamad (Dijadikan Pegangan) sujud dalam Shalat Gerhana hendaknya dilakukan dengan diperpanjang (diperlama) dalam sujud yang pertama dalam setiap rakaat, yang ukuran panjang (lama) nya sebagaimana halnya rukuk yang pertama tersebut. Demikian pula, untuk sujud kedua dalam setiap rakaat dilakukan dengan diperpanjang (diperlama) sebagaimana rukuk yang kedua dalam setiap rakaat.

4) Perihal I’tidal dan Duduk di antara Dua Sujud

Untuk I’tidal yang kedua dalam setiap rakaat (yakni I’tidal kedua dalam rakaat pertama, dan I’tidal keempat dalam rakaat kedua), serta duduk di antara dua sujud dalam setiap rakaat, maka tidaklah dilakukan secara panjang atau lama.

Selanjutnya disunahkan selesai Shalat Gerhana, baik Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan, untuk khutbah, sebagaimana khutbah Shat Idain (Idul Fitri dan Idul Adha) dalam rukun dan syarat-syaratnya.

Dalam khutbah Gerhana, disunahkan untuk menyeru dan mendorong manusia untuk bertaubat dari dosa-dosa, dan mendorong untuk mengerjakan kebaikan, seperti shadaqah dst.

Wallâhu a’lamu bishshawwâb,
Semoga ada manfaatnya. Hadânallâhu waiyyâkum ajma’în…

Draf awal ini ditulis di Karawaci Kota Tangerang, Malam Rabu, 30 Januari 2018.

Cimone Jaya, Kamis siang, 26 Desember 2019

Ahmad Ali MD, MA.
Penulis Keislaman, Pengampu Rubrik Bahtsul Masail NU Online (www.nu.or.id / www.islam.nu.or.id), Pengusaha Roti Elika

Twitter: @AliMD
IG: @ahmadali.md
Youtube: Ahmad Ali MD
Fb: Ahmad Ali MuslimDaroini
Blog: aalimd.blogspot.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.