Mbah Lim RI, Siap Menjadi Limbah RI Demi NKRI

0 347

Hampir semua orang yang dekat dengan KH. Muslim Rifa’i Imampura (Mbah Lim RI) Klaten bersaksi, bahwa hidup beliau lebih banyak dihabiskan di luar daripada di rumah bersama keluarga. Mengunjungi para janda, kiyai desa sampai syuriyah, lurah sampai petinggi negara, tukang sol sandal sampai para jendral, penjual kerupuk sampai milyarder pupuk, dan seterusnya dan seterusnya. Dan, tentu saja, dari satu maqam ke maqam lainnya.

Mbah Lim, sama seperti karibnya, Gus Dur, adalah pecinta silaturahmi, baik kepada yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Seorang pengelana tulen semenjak masih muda hingga ajal menjelang tiba.

Dalam banyak kesempatan, Mbah Lim RI sering membolak-balik namanya menjadi LimBah RI. “Saya siap menjadi limbah RI (sampahnya Republik Indonesia -ed) asalkan NKRI Pancasila bisa aman, makmur, dan damai,” ujar Mbah Lim. Belakangan, frasa NKRI Pancasila Aman Makmur Damai (NKRIP AMD) menjadi salah satu slogan di Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, pesantren yang beliau dirikan di Sumberejo Wangi, Troso, Karanganom, Klaten, Jawa Tengah.

Di pesisir Sarang, Rembang, tengah malam dalam sebuah perjalanan bersama sopirnya, Mbah Lim turun dari mobilnya dan bermunajat. Dengan suara yang lantang beliau matur kepada Allah, “Ya Allah, saya rela Engkau memasukkanku ke neraka-Mu, asalkan orang-orang se-NKRI Engkau masukkan ke surga-Mu.”

Banyak sekali cerita-cerita yang berkisah tentang kecintaan Mbah Lim terhadap NKRI. Dan setiap kali mendengar cerita seperti itu, hati saya langsung lemas. Seperti onggokan kerupuk yang digerojok air segalon. Membayangkan betapa jauh jarak antara kecintaanku dan kecintaan Mbah Lim terhadap NKRI. (Gus Ali Muhayyar)

Leave A Reply

Your email address will not be published.