Di Alpansa, Imam yang Menyalami Jamaah, Bukan Sebaliknya

0 471

Sehabis salam dalam shalat berjamaah, biasanya para jamaah di masjid-masjid NU saling berjabat tangan sambil wiridan, yang oleh beberapa pihak dianggap sebagai bid’ah. Sehabis wiridan, sebagian jamaah langsung pulang, dan sebagiannya baru pulang setelah shalat bakdiyah. Dengan demikian, di masjid-masjid tersebut, seorang hanya bersalaman dengan jamaah di sekitar tempat duduknya saja sewaktu wiridan.

Namun tidak demikian kondisi yang ada di Masjid Jami’ Al-Muttaqien, yang berada di komplek Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, lembaga pendidikan yang didirikan oleh KH. Muslim Rifa’i Imampura Klaten.

Di Masjid Al-Muttaqien ini, setiap orang yang ikut wiridan sampai selesai akan bersalaman dengan semua jamaah yang hadir di masjid. Maka seseorang bisa jadi bersalaman dua kali dengan orang yang sama. Pertama, ketika sehabis salam sambil wiridan, dan kedua, setelah wiridan.

Alurnya begini: setelah wiridan selesai, maka semua jamaah berdiri dan berjejer membentuk barisan yang mengular/spiral dan tak terputus. Lalu imam berjalan menuju baris terdepan paling kanan dan terus berjalan menyalami semua jamaah satu persatu berurutan sampai selesai.

Adapun orang yang pertama disalami imam maka ia mengikuti imam di belakangnya sambil menyalami para jamaah juga. Begitu juga orang yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Sehingga setiap orang akan menyalami semua orang yang hadir.

Hal ini hampir mirip dengan model bersalaman yang ada di shalat Idul Fitri/Adha di beberapa daerah. Bedanya, kalau dalam shalat Id, biasanya imam berdiri dan menunggu para jamaah yang berjalan menyalaminya. Sedangkan di Masjid Al-Muttaqien imam yang berjalan memutar dan para jamaah yang menunggu disalami imam.

Tentu ada makna di balik berjalannya imam menyalami para jamaah ini. Di antaranya, pertama, seorang pemimpin itu jangan hanya diam di tempat kehormatannya, tetapi harus turun ke bawah untuk mengecek kondisi bawahannya. Seorang pemimpin tidak boleh hanya enak-enakan di singgasana tanpa mengetahui kondisi riel rakyatnya.

Dengan demikian bukan rakyat yang harus melapor ke pemimpin, tapi pemimpin yang harus sigap dengan kondisi dan keluhan rakyatnya, tanpa mereka harus mengadu.

Kedua, seorang kiai atau imam, betapapun hebat dan alimnya dia, harus tetap tawadhu’ di hadapan umatnya. Imam berjalan menyalami jamaah adalah simbol kerendahan hati tersebut.

Ketiga, menjaga kesehatan. Bolehlah seorang kiai memperbanyak wiridan, tetapi jangan sampai lupa menjaga kesehatan. Dan berjalan memutar menyalami jamaah juga bisa menambah kebugaran tubuh.

Sambil Bershalawat

Sambil berjalan dan bersalaman, para jamaah bersama-sama melantunkan shalawat, yang setiap shalat fardhu memiliki bacaan shalawatnya tersendiri.

Jika berjamaah shalat Maghrib, Shubuh, dan Dhuhur, maka yang dibaca para jamaah sambil bersalaman adalah:

صلى الله على محمد صلى الله عليه وسلم … الخ  
يا نبى سلام عليك يا رسول سلام عليك ……الخ

مرحبا يا نور العين مرحبا جد الحسين … الخ

Untuk jamaah shalat Isyak, yang dibaca adalah:

يا رب بالمصطفى بلغ مقاصدنا …الخ

هو الحبيب الذى ترجى شفاعته ….. الخ

مولاى صل وسلم دائما ابدا … الخ

Sedangkan untuk jamaah shalat Ashar, bacaan shalawatnya adalah:

صلى الله ربنا على النور المبين احمد المصطفى سيد المرسلين …..الخ

اللهم صل على محمد …الخ

يا ربنا اغفرلنا وارحمنا انك انت التواب الرحيم  … الخ

_______

Keterangan foto: KH. Jalaluddin Muslim, imam shalat, menyalami para jamaah shalat di Masjid Jami’ Al-Muttaqien.

Leave A Reply

Your email address will not be published.