Ketakutan Pada Covid-19, VS Masalah Aqidah

0 700

Akidah atau teologi Aswaja kita kaum Nahdliyin (warga NU) itu mengikuti Imam al-Asyari dan Imam al-Maturidi, yakni akidah perpaduan antara aliran Jabariyah (Fatalisme/Fatalistik) dan Qadariyah (Totalisme/Totalistik), bukan mengikuti akidah aliran Jabariyah saja atau akidah aliran Qadariyah saja.

Bagi aliran Jabariyah, manusia itu sama sekali tidak punya daya atau kemampuan melakukan sesuatu atau menghindarkan sesuatu, karena semua itu ada pada Allah SWT. Manusia hanya bagaikan wayang.

Sementara, menurut aliran Qadariyah, manusia itu mempunyai daya atau kemampuan untuk melakukan sesuatu atau menghindarkan sesuatu dengan sendirinya, seperti makan minum, mengendarai kendaraan, rekreasi, traveling ke berbagai tempat wisata dalam dan luar negeri, mengelak dari serangan lawan, dan minum obat atau tidak minum obat. Manusia bagaikan dalang, bisa melakukan atau tidak melakukan sesuatu atau mampu menentukan sesuatu sesuai yang diinginkannya.

Sementara bagi Aswaja NU, manusia tidak mempunyai daya atau kemampuan melakukan sesuatu atau menghindarkan sesuatu, misalnya kematian akibat virus Corona, dengan kata lain melawan taqdir Tuhan, karena semua sudah ditetapkan dan ditentukan Allah Taala, ada qada’ (ketetapan) dan qadar (taqdir, kepastian)-Nya, tetapi punya kewajiban ikhtiar atau kasb (usaha/upaya) untuk menghindarkan penyakit dan kematian akibat virus Corona tersebut, yaitu dengan cara–cara sebagaimana dikemukakan oleh dokter/ahli medis. Yakni menjaga kebersihan, cuci tangan pakai sabun antiseptic, dan stay home (di rumah saja), social distancing (menjaga jarak), tidak melaksanakan shalat Jumat sementara dan shalat jamaah di masjid, juga tidak menghadiri kegiatan keagamaan dalam massa yang banyak saat situasi tidak normal (tidak aman, tidak terkendali) di zona Merah atau zona Kuning Covid-19, serta berobat dan menjalankan tindakan medis, sesuai petunjuk medis.

Jadi kita tidak shalat Jumat dan shalat berjamaah di masjid untuk sementara waktu, dan menghadiri aktifitas keagamaan, seperti pengajian dalam jumlah massa yang banyak, bukanlah berarti kita takut pada Covid-19, Corona tetapi tidak takut pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Demikian itu justeru menjadi wasilah (media, upaya, ikhitiar) kita bagian dari melindungi jiwa (hifz al-nafs) yang merupakan kewajiban agama sekaligus merupakan bagian dari kita takut kepada Allah Taala. Ketakukan manusia terhadap terjangkitnya atau terinveksi dan tersebarnya wabah Covid-19, Corona itu adalah selaras dengan tabiat kemanusiaan (manusiawi).

Ada maqalah penting:

فكل أمر في الدنيا يوافق الطبع ويعين على الدار الآخرة فهو من حسنات الدنيا.

Terjemah bebasnya:
“Apa pun di kehidupan dunia ini yang harmoni atau selaras dengan tabiat kemanusiaan (sifat manusiawi) dan menopang (kebaikan, keselamatan) kehidupan akhirat adalah kebaikan duniawi, –bukan keburukan duniawi.
Demikian ditegaskan oleh Syaikh al-Shâwî al-Mâlikî dalam kitabnya Hâsyiyât al-‘Allâmah al-Shâwî ‘alâ Tafsîr al-Jalâlain (Beirut: Dâr al-Fikr, 1993), Juz I, hlm. 131.

Demikian, agar dapat dipahami dengan baik. Semoga manfaat.

Wallâhu A’lam bish-Shawwâb,

Semoga Allah Taala melindungi dan menyelamatkan kita dari Covid-19, Corona, dan menyembuhkan yang terinveksi dari virus tersebut. Amîn…

Wallâhul Muwaffiq ilâ Aqwamith tharîq

Karawaci: Jumat, 25 Rajab 1441 H/20 Maret 2020 M.

Ustadz Ahmad Ali MD

Dewan Ahli Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dan Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prov. Banten

Twitter: @AliMD
IG: @ahmadali.md
Youtube: Ahmad Ali MD
Fb: Ahmad Ali MuslimDaroini

Leave A Reply

Your email address will not be published.