Pandangan NU Tentang Sholat Jum’at di Wilayah Corona



#NU #LBM #SholatJumatCorona

Pandangan Nahdlatul ‘Ulama Tentang Sholat Jum’at di Wilayah Corona

Dalam Islam, ada syariat yang meniscayakan keterlibatan massa banyak, misalnya shalat berjemaah dan shalat Jum’at di mesjid. Jika shalat berjemaah bersifat sunnah, maka shalat Jum’at adalah wajib bagi setiap laki-laki Muslim yang sudah akil baligh. Karena itu, jika tak ada uzur syar’i, maka bisa dipastikan semua laki-laki muslim akan datang melaksanakan ritual Jum’atan.

Bagaimana melaksanakan ritual peribadatan massal itu dalam konteks darurat Corona seperti sekarang?

Dalam pandangan LBM PBNU, bagi orang-orang yang sudah tahu bahwa dirinya positif mengidap virus corona, maka virus corona bukan hanya uzur (alasan) yang membolehkan yang bersangkutan meninggalkan shalat Jum’at, melainkan juga menjadi larangan baginya untuk menghadiri shalat Jumat.

Akan tetapi apabila dia tetap ikut melaksnakan shalat jumat atau jamaah di masjid maka shalatnya tetap sah, karena meskipun dia dilarang namun larangannya tidak kembali kepada sesuatu yang dilarang yaitu shalat, melainkan karena faktor ekstrernal, yaitu menimbulkan bahaya kepada orang lain.

Jika umat Islam tinggal di daerah zona merah virus corona, maka umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat zuhur di rumah masing-masing dan tak memaksakan menyelenggarakan shalat Jum’at di Masjid. Sebab, di zona merah, penularan virus corona, meski belum sampai pada tingkat yakin tapi sekurang-kurangnya sampai pada dugaan kuat atau potensial yang mendekati aktual.

Di sini penularan virus corona tidak hanya berstatus sebagai uzur tetapi menjadikan larangan untuk menghadiri shalat Jumat. Artinya, masyarakat muslim yang ada di zona merah bukan hanya tidak diwajibkan shalat Jum’at/tidak dianjurkan shalat jama’ah dalam jumlah besar, melainkan justru mereka tak boleh melakukan dua aktivitas tersebut. Sebagai gantinya, mereka melaksanakan shalat zuhur/jama’ah di kediaman masing-masing.

Menghadiri atau menyelenggarakan shalat Jum’at di zona merah sama halnya dengan melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri. Larangan penyelenggaraan shalat Jum’at ini bisa juga dinyatakan tak terkait dengan ibadah Jum’atnya melainkan pada perkumpulan orang yang potensial; satu menularkan virus pada yang lain.

Jika perkumpulan umat dalam shalat Jum’at saja dilarang, maka apalagi perkumpulan umat di acara-acara lain yang sifatnya sunnah dan mubah misalnya Tabligh Akbar, Munas, Muktamar, maka statusnya adalah haram li ghairih.

Pandangan ini kian kuat karena pemerintah berdasarkan pertimbangan medis-kedokteran sudah menyatakan agar seluruh warga tidak datang pada kegiatan yang melibatkan massa banyak. Setiap orang dapat memiliki keyakinan sendiri dan tak percaya pada arahan para ahli kesehatan, tetapi sebagai warga negara terikat dengan apa yang diputuskan ulil amri atau pemerintah.

Dalam umat Islam yang berada di zona kuning virus corona, maka penularan virus corona masih dalam batas potensial-antisipatif. Karena itu, virus corona tidak menjadi larangan melainkan hanya menjadi uzur shalat berjamaah dan shalat Jum’at.

Artinya, virus corona menjadi alasan bagi masyarakat muslim di zona kuning itu untuk tidak melaksanakan shalat Jum’at dan shalat berjemaah dan tidak sampai menjadi larangan bolehnya mereka melakukan dua aktivitas tersebut. Sebab, menurut para fuqaha`, salah satu yang bisa dijadikan alasan untuk tidak melaksanaan shalat jumat dan jamaah di masjid adalah adanya kekhawatiran yang meliputi tiga hal yaitu kekhawatiran akan keselamatan jiwa, tercederainya kehormatan, dan kekhawatiran akan hilangnya harta benda.

Namun, memperhatikan demikian berbahayanya virus corona ini, maka umat Islam yang berada di zona kuning pun tetap dianjurkan mengambil dispensasi dalam syari’at Islam, yaitu memilih melaksanakan shalat zuhur di rumah masing-masing daripada shalat Jum’at di Masjid.

Akhirnya, dalam menghadapi penularan cepat virus corona ini, maka penting bagi umat Islam untuk memadukan sikap tawakkal dan waspada, sebab keduanya merupakan prinsip ajaran Islam. Antar keduanya tak saling bertentangan. Kita tawakkal sambil waspada atau waspada sambil tawakkal.

Pandangan LBM PBNU ini ditetapkan Jakarta, 19 Maret 2020

Sumber: https://tinyul.com/PandanganLBMNU

#BelajarIslam #AlQuran #Hadits #Ulama #Doa
#Aqidah #Ibadah #Akhlaq #Wudhu #Sholat #Zakat #Puasa #Haji #Sholawat

Email: maskurudin98@gmail.com
Youtube: https://www.youtube.com/cakMasykur
Facebook: https://www.facebook.com/masykurudin….
Twitter: @Masykurudin
Instagram: @masykurudinhafidz
Like, Share, dan Subscribe Channel Cak Masykur

4 Comments
  1. Annisa ayu N.R says

    Komen pertama

    Bantu subscribe channel ku dan follow ig ku:ihsan_nation124

  2. Dinam Jafar says

    Lah bukan nya solat berjamaah itu hukum nya fardu kifayah????

  3. Fat Hurrahman says

    Alhamdulillah Paham

  4. Irfan Sinse says

    Lalu mana yg lbih baik
    Sakit tapi ttp sholat jumaat.
    Atau sakit jangan pergi sholat jumaat

    Mohon pencerahan
    dan keputusan yg paling kuat

    Saudara

Leave A Reply

Your email address will not be published.